Polisi berhasil menangkap teroris (lagi) !! Good .. Selamat .. Baguslah .. Lumayan buat menambah list liputan para wartawan. Mampu menjadi prestasi terhebat yang akan menjadi fokus perhatian semua orang?? Atau apakah mampu mengalihkan sejumlah isu lain, seperti RUUK Keistimewaan Yogyakarta yang mulai 'panas' dan 'nyanyian' Gayus di muka peradilan yang mulai sumbang?
Ups .. nanti dulu .. Coba simak baik-baik dan rasakan. Apakah kini memang masih ada euforia menyambut keberhasilan penangkapan teroris seperti halnya saat kali pertama para penegak hukum membekuk para pelaku bom Bali? Saya yakini, tidak ada euforia itu. Berita teroris, penemuan bom, adalah berita biasa yang setiap orang sudah tidak tertarik lagi untuk membicarakannya.
Seperti halnya berita tentang penindasan, tentang korupsi, tentang carut marutnya sistem peradilan di bumi pertiwi ini. Semuanya adalah warta biasa, terlalu sering disuguhkan tanpa ada gambaran ending yang pasti. Gayengnya hanya ada dan dirasakan oleh sejumlah media massa atau mungkin di meja perjamuan sejumlah politisi negeri.
Saking sering dan bertele-telenya, sehingga tak lagi mampu membuat kebanyakan orang (terutama orang biasa seperti saya) jadi bersimpati, berempati, apalagi berharap. Ironisnya, hilangnya empati ini sepertinya juga mulai berlaku untuk berita tentang bencana yang beberapa tahun belakangan menjadi agenda rutin negeri ini.
Banjir di mana-mana, tanah longsor, gunung meletus, puting beliung, kebakaran, kecelakaan sudah bukan lagi hal yang aneh. Cukuplah Tsunami Aceh 2004 lalu yang sempat membuat publik terhenyak, pilu, gundah, susah ... selanjutnya ...
Untunglah, di tengah-tengah kejenuhan akan berita-berita memilukan, ada satu momen yang membuat euforia, nasionalisme, harapan, itu kembali menyeruak. Adalah majunya timnas Garuda Indonesia di babak semifinal ajang AFF 2010 yang mampu membangkitkan 'mimpi' anak-anak bangsa ini.
Kini para ibu di sejumlah perkumpulan pun bisa sambil tersenyum membicarakan kiprah Irfan Bachdim, Christian Gonzales dan yang lainnya. Bahkan sensani Firman Utina dkk ini lebih mampu menyedot perhatian mereka dibandingkan celoteh Depe, Jupe di sejumlah infotainment yang selama ini menjadi acara favorit.
Ada apa? Jawabnya simpel .. ternyata kita ini sedang merindukan kemenangan. Kita sudah bosan jadi pecundang, pesakitan. Kita butuh pahlawan yang sesungguhnya, seperti Firman Utina dkk. Bukan 'Pahlawan Obama' yang datang untuk menjadikan pasar bangsa kita.
Bukan pula 'Pahlawan Gayus', 'Pahlawan Susno' yang saya ibaratkan bagai api yang meneriaki bara. Apalagi 'Pahlawan Sumiati' yang harus merelakan jiwa, dan harga dirinya tercabik untuk sebuah diplomasi yang ternyatapun tak mampu menjawab semua permasalahan pelik TKI di rantau orang. Itulah potret sesungguhnya negeri ini.
Namun, saya tetap tak ingin patah hati atawa frustasi. Kejenuhan ini semoga bisa menjadikan saya dan para orang tua lain yang mungkin mengalami krisis kepercayaan kepada para petinggi negeri seperti saya, memiliki kesadaran untuk menjadikan ini sebagai pembelajaran terbaik bagi putra-putrinya. Memberikan pendidikan mumpuni yang kelak akan menjadikan mereka sebagai generasi yang amanah, cakap, tangguh, bermartabat, dan mampu menjaga harga diri bangsa. Amin Ya Rabbal Alaminnn ..
Salam satu jiwa, Indonesia
--------------------------------------------
Penulis adalah perempuan biasa yang mencoba peduli sekitar ..
ilustrasi:Google image
|