| Tak Punya Gincu, Bukannya Saya Simpan Peluru |
|
|
|
|
Sambil menerima uluran tangannya, saya mencoba mengingat-ngingat. Sepertinya, saya memang sangat familiar dengan wajah itu, tapi siapa? di mana? Kaki-kaki yang (maaf) mengecil, baju gamis putih, kopiah, wajah berjanggut dan bercambang. Meski duduk di tengah ketidakberdayaannya, namun rona wajah itu, tampak bersih dan bercahaya. Ya, tapi Siapa? Sebelum saya benar-benar mengingatnya, tiba-tiba, laki-laki itu kembali membuka suara. “Mbak pasti sudah lupa sama saya. Tapi seumur hidup, saya tidak akan pernah melupakan mbak. Mbaklah orang yang akhirnya membuat saya jadi seperti ini sekarang ..” katanya semakin membuat saya tidak mengerti. Membuat seperti ini? Maksudnya membuatnya lumpuh? Oh my God ..kapan? Apa yang telah saya lakukan? Seumur-umur (naudzubillahimindalik, jangan sampai terjadi), saya belum pernah melukai fisik siapapun. Apalagi sampai membuat seseorang cacat seperti itu. Rupanya, lelaki itu membaca tanda tanya besar di fikiran saya. Maka dengan senyum sangat bersahabat, diapun mulai membuka jati diri atau tepatnya mengingatkan kembali sebagian ‘memory’nya dengan saya. “Saya N (maaf tidak bisa saya sebutkan di sini). Mbak pasti ingat, mantan Kepala Kantor ***** yang mbak tulis kasusnya waktu itu. Saya sudah menjalani masa tahanan selama tiga tahun lebih mbak .. Seminggu setelah masa bebas, kebetulan pas hari Raya, saya mengajak sekeluarga pulang ke Jawa Tengah. Tapi naas .., kendaraan yang saya sopiri kecelakaaan, terserempet kereta api di sebuah palang perlintasan kereta api di Madiun ..istri dan anak sulung saya meninggal. Saya dan dua anak saya yang lainnya memang selamat. Tapi beginilah keadaan saya saat ini, pasca peristiwa itu .. Ternyata do’a mbaklah yang didengar Tuhan, “ katanya dengan suara perlahan. Saya tercekat. Memory saya langsung tertuju pada peristiwa belasan tahun yang lalu. Tapi benarkah ini pak N yang saya kenal dulu? Dia dulu gendut, tidak bercambang, apalagi berjenggot. “Ini betul Pak N ? Maaf pak, tapi saya benar-benar pangling .. saya ikut prihatin atas peristiwa yang menimpa bapak ..Tapi kenapa bapak mengatakan semua itu atas do’a saya?” protes saya. Ya saya memang harus protes. Bagaimana tidak? Jangankan menghabiskan waktu untuk mendo’akan yang buruk-buruk untuk orang lain, berdo’a untuk kebaikan saya sendiri dan keluarga saja, pada shalat lima waktu rasanya belumlah cukup. “Tapi ucapan, kalimat, kata-kata seseorang adalah do’a. Apa yang mbak tulis di koran, adalah harapan .. tak terucap secara lisan memang, tapi maknanya jauh lebih dalam karena dituliskan dengan perasaan dan kejujuran ..” tambah Pak N. Saya tak berusaha menampik atawa mengiyakan. Terlebih karena saya memang tidak ingin pertemuan ini menjadi momen untuk saling melempar kesalahan atau kebenaran, kejujuran dan kebohongan, kekalahan dan kemenangan. Apalagi untuk saling meresapi penyesalan. Namun jauh di dasar hati saya sebenarnya ada bisikan jawaban. Bahwa sebenarnya bukan sekedar kejujuran, idealisme, dan harapan sajalah yang menggerakkan naluri saya untuk mengungkapkan semua fakta lewat kata-kata yang terbungkus label berita. Baik untuk saat itu ataupun nanti. Di balik itu, adalah sebuah tuntutan profesionalisme dan pekerjaan !! Tak perlu saya ceritakan apa yang kami perbincangkan selanjutnya. Yang jelas, banyak hal yang membuat kami akhirnya justru saling menyelami, memahami, memaknai segala peristiwa yang terjadi di kefanaan ini tak lepas dari ‘campur tangan’ -Nya. Sebenarnya ini bukan kali pertama. Entah apa yang ingin Tuhan tunjukkan pada saya. Sebab, beberapa hari sebelumnya, saya juga dipertemukan dengan mantan anggota dewan, mantan pejabat eselon III, seorang pengusaha yang pernah mengalami momen pahit dipenjara, dikucilkan, dipecat dari jabatannya. Tentu saja setelah sebelumnya menjadi bulan-bulanan media. Mereka sama, memutuskan untuk tidak lagi bersikap arogan, tidak lagi mengedepankan ekspresi ‘muak’ dengan pemberitaan, pasca mengalami fase demi fase yang sempat membuat kehidupannya terpuruk. Itulah yang justru membuat fikiran saya berkecamuk, apa yang ingin Tuhan tunjukkan kepada saya. Bahwa arogansi para ‘pesakitan’ itu tidak berguna saat dewi fortuna dan angin baik itu lagi bepihak padanya? Atau justru sebaliknya, Dia ingin menunjukkan bahwa sikap arogansi pawarta (baca=media) bisa menyebabkan seseorang menjadi begitu tak berdaya? Atau kedua-duanya bahwa setiap apa yang kita tabur, akan kita tuai hasilnya? Namun, bisa jadi, sebenarnya Tuhan hanya sekedar ingin menunjukkan bahwa do’a yang dipanjatkan orang-orang yang terabaikan hak-haknya akan diijabah-Nya.Walahualam Bishawab. Bila Allah berkehendak, Kun Fayakun .. Terjadilah semua. Maka, janganlah selalu berharap gincu dari seorang pawarta karena itu terlalu semu, fiksi adanya. Tapi juga jangan terus paranoid mencurigai mereka telah menyiapkan beberapa peluru karenanya. Sebab, saat semua berjalan sesuai alurnya, berangkat dari khitohnya, maka keniscayaanlah adanya. Tak perlu kata-kata makian itu, apalagi dipadupadan dengan berbagai teror dan kekerasan. Tak bijaksana dan (maaf) ..murahan. Saya jadi ingat salah satu ’setan’ Kompasiana (karena dia tak menyebut dirinya manusia) .. Bung Ea Setan. Kompasioner satu itu memang ada benarnya. Seringkali kita baru terfikir untuk menjadi malaikat setelah gagal menjadi setan .. Dan sebaliknya kita bisa saja sewaktu-waktu menjelma menjadi setan ketika jalan untuk menjadi malaikat selalu tertahan … ================================================================ ” ..dan ketika saya tak mampu merajut kata pembuka kunci surga, bukan berarti saya juga telah merenda titian tuk menapaki gerbang neraka .. sebagaimana kata, saya melafalkan ayat-ayat rasa di awang-awang, setelah tak sanggup lagi berpijak di bumi yang mulai nyala .. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan ..mohon maaf lahir bathin bila ada khilaf dan kesalahan …” |
Comments