REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Sabtu, 19 Mei 2012 | Welcome : Tamu |
Banner
Home Cermin Cinta dari Darah dan Ruh
Admin
Ditulis oleh Muh.Syukri Ali   
Posted : Rabu, 30 September 2009 19:49


Cinta dari Darah dan Ruh PDF Print E-mail

muhsyukrialiLelaki itu sudah mengabdi pada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadatsnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua diturunkan Allah persis setelah perintah tauhid.

Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya pada Umar Bin Khattab: “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” Lalu Umarpun menjawab: “Tidak!Tidak Cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya sementara ibumu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu.


Tidak!Tidak!Tidak!
Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi mengimbanginya. Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh. Anak adalah buah cinta dua hati. Tapi ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: disana sang hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati kehidupan sang ibu. Ia lalu keluar diantar darah: inilah ruh baru yang dititip dari ruh yang lain.


Itu sebabnya cinta ibu merupakan cinta misi. Tapi dengan ciri lain yang membedakannya dari jenis cinta misi lainnya, darah! Ya, darah! Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan. Cinta ini adalah campuran darah dan ruh.


Ketika sang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya! Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata didasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya.


Itu kelezatan jiwa yang tercipta dari hubungan darah. Tapi diatas kelezatan jiwa itu ada kelezatan ruhani. Itu karena kesadarannya bahwa anak adalah amanah langit yang harus dipertanggung jawabkan diakhirat. Kalau anak merupakan isyarat kehadirannya dimuka bumi, maka ia juga penentu masa depannya diakhirat. Dari situ ia menemukan semangat penumbuhan tanpa batas: anak memberinya kebanggaan eksistensial, juga sebuah pertanggungjawaban dan sepucuk harapan tentang tempat yang lebih terhormat di surga berkat doa sang anak.


Dalam semua perasaan itu sang ibu tidak sendiri. Sang ayah juga bersamanya. Sebab anak itu bukti kesepakatan jiwa mereka. Mungkin karena kesadaran tentang sisi dalam jiwa orang tua itu, DR. Mustafa Sibai menulis persembahan kecil di halaman depan buku monumentalnya “ Kedudukan Sunnah Dalam Syariat Islam.” Buku ini, kata Sibai, kupersembahkan kepada ruh ayahandaku yang senantiasa melantunkan do’a-do’anya : “Ya Allah, jadikanlah anakku sebagai sumber kebaikanku diakhirat kelak.”


Doa sang ibu dan ayah selamanya merupakan potongan-potongan jiwanya! Karena itu selamanya terkabul!

 
Hati-hati Menjaga Lisan

Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita...
Jangan Kamu Bolak Balik !

Setelah turun dari masjid selesai sholat subuh,...
Malinda, Rekam Mata Si Bocah Teka

Ada yang menggelitik fikiran saya pagi ini....
Rasa Malu ...

  Oleh:Rofieq Sidqi   Ada sebuah ungkapan...
Pelajaran Hidup ...

Saat kau berumur 1 tahun dia menyuapi dan...
Jejak Indah Sang Pemimpin

Malam telah pekat, selimut-selimut semakin...
Sholat dan Kecantikan Diri

Shalat tidak hanya ritual sebagai ketaatan dalam...
Malu, Takut, dan Cinta

Tiga sifat, yakni malu, takut, dan cinta ternyata...
Kipas-Kipas Mimpi

  Pesan Bapak kepada anaknya sebelum pergi…:...
Sengkuni, Pemimpin Cerdas dan Culas

"Yo aku sang Haryo Suman,  yo Trigantalpati,...
Rasa Keadilan

  Rasa keadilan itu setiap saat ditunggu-tunggu...
Negara Tanpa Penjara

Ide yang terbaca dalam judul tersebut, mungkin...
"Jihad" Ataukah Bunuh Diri?

Islam adalah Agama Yang Sempurna ,tidak ada...
Baju Ketat dan Aliran Sesat

Sebenarnya saya malu menuliskan cerita ini....
Segenggam Gundah

Oleh:Much Syukri Ali Subuh tadi saya melewati...