REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Sabtu, 19 Mei 2012 | Welcome : Tamu |
Home Cermin Cerita Secangkir Kopi Pahit
Admin
Ditulis oleh Cucuk Espe   
Posted : Kamis, 15 Oktober 2009 07:01


Cerita Secangkir Kopi Pahit PDF Print E-mail

cucukIni kisah tentang kopi!
Secangkir kopi yang mampu membuat jantung berdetak lebih cepat. Tetapi kisah ini bukan tentang jantung yang terpacu oleh kandungan caffein dalam seteguk kopi. Juga bukan tentang efek kopi bagi kesehatan. Bukan! Atau barangkali kisah ini tidak nyambung sama sekali dengan judul tulisan ini. Bagiku itu bukan masalah. Yang jelas, aku ingin berbagai kisah tentang secangkir kopi yang selalu menemaniku dan menggeser kebiasaan sarapan pagiku.


Kopi itu tinggal separo cangkir di atas meja, dari sinilah aku mulai kisahnya. Kopi itu aku buat sekitar pukul sebelas tadi malam dan malam itu merupakan cangkir kesepuluh. Kini sisa kopi semalem masih bertengger di atas meja. Tatakannya belepotan ampas kopi juga di sekitar tatakan cangkir ini. Memang semalem aku menuangnya agak berantakan. Sambil memandangi kopi yang dingin, sedingin pagi itu, aku tersenyum sendiri. Senyum bangga! Bahwa dengan secangkir kopi itu telah membuatku terjaga dengan degup jantung lebih kencang, dan yang penting kalimatku menjadi sangat lancar. Tidak biasanya aku memiliki kecerdasan seperti itu.
Sambil sesekali meneguk kopi itu, semalam aku protes pada diriku sendiri, juga kepada Tuhan. Meskipun sadar, Tuhan tidak suka jika umatnya protes karena tidak ada alasan untuk itu. Aku tidak mempedulikannya, bagiku teriak sedikit bisa mengurangi sesak yang memenuhi ruang batinku.


“Selamat pagi Tuhan,” kataku dalam batin. Kuteguk kopi yang mulai dingin. Lama kutunggu tak ada jawaban. Angin di luar bertiup agak kencang menghamburkan dedaunan kering, berserakan di tanah pasir, dekat jendela.
Aku tidak peduli lagi ada jawaban atau tidak. Dan memang aku tidak tahu bagaimana Tuhan bicara padaku yang telah lama meninggalkan halamannya.


“Aku ingin menemui Tuhan dengan bahasa yang aku mengerti. Aku yakin Engkau pasti sangat mengerti bahkan sebelum aku bicara. Aku yakin itu! Tetapi demi memenuhi hasrat hiperbolisku, aku akan ceritakan pelan-pelan,” kataku.
Sepi. Angin di luar masih menggoyangkan dedaunan. Kuteguk kopi sedikit.


“Kesalahan itu sama sekali tidak memberatkan pikiranku. Bahkan pagi ini, aku telah melupakannya. Aku lupa! Segala yang terjadi semalam tertimbun beribu keinginan dan kenangan yang lebih menarik saraf ingatanku. Aku merasa diriku semakin baik dan tidak terjejali kesalahan,” kataku. “Tapi aku mulai curiga, Tuhan,” lanjutku.


Aku duduk dengan kaki selonjor. Mengambil sebatang kretek dan kunyalakan seolah ingin membakar sisa ingatanku.
“Kesalahan itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya selalu bingung. Bingung! Bingug karena telah melanggar cita-citanya sendiri. Cita-cita terhadap kebaikan moral yang diciptakannya sendiri. Pagi ini, Tuhan…lihat televisi (channel sekenanya), ada seorang koruptor menyesali perbuatannya di hadapan wartawan, jambret yang babak belur menangis di hadapan polisi, artis yang merasa bersalah karena mengkhianati pasangannya. Semuanya menyesal…menyesal…! Menangis…menunduk! Semuanya! Kenapa itu mesti dilakukan? Kesalahan itu hadiah yang luar biasa dalam hidup,” aku mulai tertawa sendiri.


Kuseruput kopi yang semakin dingin.

“Kita disebut manusia adalah karena memiliki kesalahan. Dan semakin kita mampu menghayati kesalahan itu, berarti kita semakin menjadi manusia. Yah! Inilah puncak pencapaian takdir kemanusiaan yang tertinggi. Jujur, Tuhan…bila ada teman atau kerabat atau siapa saja mengaku; aku khilaf…aku berdosa…atau Tuhan menjagaku…Tuhan menyelamatkanku…aku malah ingin membanting pikirannya yang –menurutku—keliru. Itu pikiran salah besar! Sebab dengan ungkapannya itu, berarti dia semakin jauh takdir kemanusiaannya. Manusia bukan Tuhan juga bukan malaikat,” teriakku.


Sebentar kemudian, aku tersenyum bangga.
“Itulah sebabnya, aku merasa tidak bersalah. Kutinggalkan secangkir kopi yang membuatku diam dan berpikir ini, untuk mengambil sifat kemanusiaanku. Manusia atau binatang?! Begini; coba perhatikan, antara sifat manusia dan sifat binatang tidak ada bedanya, saling melengkapi. Memperkosa, membunuh, bunuh diri, menghujat, itu semua sifat binatang yang terkadang kita bajak. Benar! Pembajakan identitas, menurutku.
Tuhan, kau benar-benar menjadi manusia yang mengambil karunia-Mu berupa kekhilafan. Aku merasakan betapa nikmat khilaf itu. Dan mungkin, Kau tersenyum melihatku berbuat khilaf semalam sebelum cangkir kopi ini habis. Dan mungkin juga, Kau akan marah jika melihatku tidak melakukan apa-apa karena justru akan menyalahi kodrat kemusiaanku. Kubawa perempuan itu dalam peluk malam, sebelum kopi habis. Kubayar. Dan selesai.”


Kusurukkan rokok ke asbak. Pinggangku terasa sedikit linu. Begitulah, secangkir kopi ini membawaku pada kenangan beberapa jam yang lalu. Kopi yang menurutku semakin manis. Tapi mungkin pahit bagi siapapun yang tak terbiasa menjadi manusia sebenarnya.
Kesalahan adalah tuhan baru yang terus dipuja manusia, mungkin juga aku, kamu dan kalian!***


**Penulis adalah humas Lembaga Baca-Tulis Indonesia, alumnus Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

 
Rasa Malu ...

  Oleh:Rofieq Sidqi   Ada sebuah ungkapan...
Umar Bin Khatab, Teladan Suami Sabar

Assalamu'alaikum Warahmatullahi...
Sabar Hadapi Perjuangan

"Sabar dalam menghadapi perjuangan ialah...
Cinta, Halal Atau Haram

              Jika menuruti kata hati...
Dosa Besar bagi Pendusta

Agama Islam mengharamkan dusta karena dusta itu...
ABG sayang, ABG malang

ABG (Anak Baru Gede) adalah sebutan bagi remaja...
'Takwa' Bagi Calon Pemimpin

Dalam salah satu kata Mutiara, ada ungkapan...
Malu, Takut, dan Cinta

Tiga sifat, yakni malu, takut, dan cinta ternyata...
Miripnya Gayus dan Irfan ...

Irfan Bachdim dan Gayus Tambunan, dua nama yang...
Islam Bukan Media Keakuan

Islam, bagaikan pohon yang memiliki akar serabut,...
"Jihad" Ataukah Bunuh Diri?

Islam adalah Agama Yang Sempurna ,tidak ada...
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas

Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya...
Jejak Indah Sang Pemimpin

Malam telah pekat, selimut-selimut semakin...
Pelajaran Hidup ...

Saat kau berumur 1 tahun dia menyuapi dan...
Allah Menerima Taubatmu ...

Allah Subhaanahu Wa Ta'ala denga Firman-NYA "....