REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Sabtu, 19 Mei 2012 | Welcome : Tamu |
Home Cermin Burung Gereja dan Paku di Pagar
Admin
Ditulis oleh Deddy Hidayat   
Posted : Jumat, 23 Oktober 2009 08:09


Burung Gereja dan Paku di Pagar PDF Print E-mail
(Dua kisah teladan antara bapak dan anak)
oleh:Deddy Hidayat

deddyhidayat1Di halaman depan sebuah rumah, seorang pemuda sedang duduk membaca koran di samping ayahnya yang sudah tua. Sambil memegang tongkat, bapak itu memperhatikan seekor burung gereja yang bertengger di pucuk pohon.

Seraya menunjuk ke arah burung, bapak itu bertanya, "Apa itu nak?"
Pemuda tersebut meletakkan koran dan melihat yang ditunjuk bapaknya, lalu menjawab, "Itu burung gereja, Yah". Lalu ia melanjutkan membaca koran. Bapak itu tersenyum sambil tetap memperhatikan burung gereja itu.

Pada saat burung gereja itu terbang, bapak itu kembali bertanya, "Apa itu nak?"
Dengan kesal, pemuda itu membanting koran sambil berkata, "Itu burung gereja, Ayah! BURUNG GEREJA! B-U-R-U-N-G G-E-R-E-J-A! Ayah kok tidak paham juga sih?".
Seketika terpancar kesedihan di wajah bapaknya. Ia mengambil nafas panjang, lalu bangkit dari kursi taman. Pemuda itu memegang tangan bapaknya dan bertanya, " Ayah mau kemana?"

Dengan isyarat tangan, ayahnya itu meminta anaknya menunggu. Kemudian, ia menuju ke dalam rumah. Sementara itu, dikesendiriannya, pemuda itu termenung memandang koran yang tadi dibantingnya.

Tak beberapa lama, ayahnya itu kembali dengan membawa sebuah buku tua bersampul kulit yang sudah lusuh. Setelah dibuka dan menemukan halaman yang dicari, ia menyerahkan kepada anaknya. "Bacalah", pinta ayahnya. Diterimanya buku itu dari tangan ayahnya dengan keheranan, namun pemuda itu tetap membacanya.

"Baca yang keras", pinta ayahnya sambil memejamkan matanya.

Perlahan-lahan, pemuda itu membaca," Hari ini anakku berusia tiga tahun, ia kuajak duduk di bangku halaman.Anakku bertanya kepadaku sambil menunjuk burung gereja yang hinggap di atas dahan.Aku memeluknya sambil menjelaskan padanya bahwa itu adalah burung gereja. Anakku terus bertanya sampai 21 kali, dan 21 kali pula aku memeluknya dan menjelaskannya.Semoga engkau kelak menjadi anak yang pintar, Nak ".

Pemuda itu berhenti membaca, tak terasa air mata sudah mengalir di pipi, kemudian ia memeluk ayahnya dan tak henti-hentinya mengucapkan, "Maafkan aku, Ayah......Maafkan aku, Ayah..............."

Paku di Pagar (Memaafkan)

Di suatu tempat, terdapat seorang anak yang pemarah dan pendendam. Ia seringkali tersinggung dan kesal. Ayahnya yang memperhatikan sikap anaknya mencoba menasehatinya.
"Nak, kau lihat pagar kayu di depan rumah kita?", tanya Ayahnya.
"Ada apa dengan pagar kita?", Anaknya balas menjawab.
"Bila engkau marah kepada seseorang, ambil paku dan tancapkanlah pada pagar itu. Maka kemarahanmu bisa terobati", jelas Ayahnya.

Anak itu mengikuti perkataan ayahnya tanpa mengetahui maksudnya. Setiap kali ia marah, ia menancapkan paku di pagar rumahnya. Sampai-sampai sudah banyak paku yang menancap di pagar. Anak tersebut menghampiri ayahnya sambil tersenyum.
"Ayah, sekarang setiap kali saya marah, saya menancapkan paku di pagar. Sekarang hampir tidak ada tempat untuk menancapkan paku lagi".
Ayahnya sedih mendengarkannya, tapi mencoba memberikan nasihat lagi.
"Nah, sekarang jika engkau memaafkan seseorang, cabutlah paku itu"
Anak itu mendengarkan dan segera pergi ke pagar.

Ternyata tak berapa lama, anak itu kembali kepada ayahnya.
"Ayah, di setiap orang yang sudah saya maafkan, paku pada pagar sudah saya cabut"
Ayahnya merangkul anaknya sambil berjalan ke arah pagar.
"Lihatkah engkau pada pagar kita? Bayangkan pagar ini adalah hatimu. Yang tersisa dari kemarahanmu adalah hatimu yang tertutup, sedangkan yang tersisa dari kemarahan yang dimaafkan adalah bekasnya." Ayahnya menjelaskan.
"Walaupun engkau memaafkan seseorang, sesungguhnya hatimu masih tersisa bekas luka. Untuk itu, janganlah hatimu merasakan kemarahan emosimu. Lupakan saja, bebaskan hatimu dari luka itu", lanjut sang ayah.

Menurut saya, alangkah lebih baik jika kita tidak memasukkan kemarahan dalam hati ini dengan melupakan. Bagaimanapun juga, hati kita akan merasakan bekas-bekas kemarahan yang (mungkin) dapat terbuka kembali pada keadaan tertentu. Jika kita memaafkan seseorang, cobalah untuk melupakan kesalahannya, atau memaafkan lahir dan batin.
 
Lupa Hari ini HUT RI

Tak nampak greget peringatan HUT Kemerdekaan RI...
Menuju Kesempurnaan Beragama

  Menyebut fluralisme dalam beragama ternyata...
Ayo Pah .. Lawan !

Kepada suaminya mereka berkata: (istri pejabat...
Kipas-Kipas Mimpi

  Pesan Bapak kepada anaknya sebelum pergi…:...
Balada Empat Istri

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang...
Sabar Hadapi Perjuangan

"Sabar dalam menghadapi perjuangan ialah...
'Takwa' Bagi Calon Pemimpin

Dalam salah satu kata Mutiara, ada ungkapan...
Mau Marah .. Silahkan

"Sesungguhnya marah itu bara api yang dapat...
Cinta, Halal Atau Haram

              Jika menuruti kata hati...
Sengkuni, Pemimpin Cerdas dan Culas

"Yo aku sang Haryo Suman,  yo Trigantalpati,...
Mengapa Kibarkan Bendera Putih

  Agak telat ketika saya pulang ke rumah dan...
Jiwa Yang Nyangkut ...

Rasanya hampir semua orang dewasa, termasuk kita...
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas

Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya...
Tak Punya Gincu, Bukannya Saya Simpan Peluru

  "Apa kabar mbak, masih ingat saya?” sapa...
Pelajaran Hidup ...

Saat kau berumur 1 tahun dia menyuapi dan...