Indonesia News Style | Kamis Wage, 02 Oktober 2014
Home Cermin Filosofi Semar
Admin
Ditulis oleh KidalangBonex Haryanto Ogut   
Posted : SENIN, 26 Oktober 2009 05:44


Filosofi Semar


semarSemar adalah salah satu karakter 'pamomong' (panutan) yang menjadi bagian penting dalam sebuah pertunjukan wayang. Tokoh sepuh (tua) ini, dalam gebyar pentas wayang bukan hanya sekedar muncul sebagai bapak atawa sesepuh dari punakawan yang terdiri dari Gareng, Petruk,dan Bagong.

haryanto2Semar dengan bentuk muka dan badannya yang spesifik, memiliki makna lebih dalam lagi, sebagaimana filosofi "Semar Bodronoyo" yang berarti mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah SWT demi kesejahteraan manusia di muka bumi.

Semua unsur yang ikut membangun karakter seorang semar, baik itu mimik, suara, perilaku maupun busananya, mencerminkan sosoknya yang menjadi perlambang kehidupan, yang begitu sarat dengan nilai-nilai luhur.

Misalkan kuncung pada kepala Semar, bukanlah kuncung biasa. Kuncung ini melambangkan pribadi yang melayani para bendoro (majikan), yakni Pandawa Lima yang terdiri dari Puntodewo (Yudistiro),Werkudoro (Bimo), Janoko (Permadi), Nakulo dan Sadewo.

Masih soal kuncung, Semar adalah Sang Hyang Ismoyo yang turun ke dunia seperti manusia kebanyakan yang mempunyai ciri khas berkuncung seperti anak-anak namun berwajah tua, dan kalau tertawa selalu berakhir dengan nada tangis. Matanya berkaca-kaca namun mulutnya tertawa, dengan profilnya yang berdiri tapi juga jongkok, menandakan Semar tidak pernah
menyuruh, namun memberikan konsekwensi atas semua nasehat-nasehatnya.semar

Begitu juga Kelima tokoh pandhawa tadi, mewakili lima sifat dasar manusia yang hidup di alam dunia. Pandhawa harus lima. Kalau hilang satu tokoh saja bukan Pandhawa namanya. Istilahnya, kalau siji mukti limo mukti, siji mati limo mati, jadi tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain dan harus selalu saling melengkapi. Pandawa tidak boleh mati.Sebab, bila ada salah satu tokoh Pandawa yang mati, artinya Semar sudah tidak bisa mengemban tugasnya sebagai dewa di muka bumi dengan benar.Tidak ada gunanya lagi dia berada di bumi, lebih baik kembali lagi ke khayangan .. yang berarti pula bahwa dunia manusia sudah tidak ada lagi alias telah tamat riwayatnya.

Di sisi lain, Semar juga merupakan lambang dari penjaga kedamaian dan keadilan kehidupan manusia di dunia.Domisilinya di Karang Kadempel, Karang berarti gersang dan Dempel yang berarti keteguhan hati dan jiwa menggambarkan betapa Semar memang sarat dengan nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi karakter manusia pada umumnya juga.

Pun juga kain yang dipakainya, adalah kain Parangkusumorodjo atau sama dengan memayuhayuning bawono yang berarti perlambang keadilan dan kebenaran di muka bumi. **


**Penulis adalahHARYANTO, pelaku dan pelestari seni tradisi (Dhalang Wayang Kulit kontemporer), Dhalang BONEX Ki Gendheng Haryanto.