| Baju Ketat dan Aliran Sesat |
|
|
|
|
Masih pagi, saya belum mandi, duduk di teras samping rumah ditemani secangkir kopi dan rokok kretek kesayangan saya. Bila sudah begitu, saya bisa mandi jam 11 siang, maaf…ini kebiasaan buruk. Don’t try it at home, ok! Ketika asyik menyeruput kopi, mendadak dikejutkan oleh dua orang tamu yang tidak saya kenal. Masih muda. Mungkin usianya jauh di bawah saya. Sepertinya dia anak kuliahan. Nyaris saya keselek, tidak biasanya ada tamu sepagi itu. Sejenak saya mengingat-ingat, kali aja saya pernah punya hutang dan mereka disuruh menagih. Oops! Tidak baik berprasangka buruk. Bisa menutup jalannya rejeki. Saya membetulkan posisi duduk dan melipat sedikit sarung yang agak melorot. “Dari mana ya…?” tanya saya sebelum sempat membalas ucapan salam dua pemuda itu. “Tebuireng. Maaf, jika mengganggu,” jawabnya penuh sopan. Saya njumbul! Dilihat potongan dan body language-nya, mereka memang santri banget. Anehnya, kenapa santri Tebuireng mendadak ke rumah pagi-pagi sekali. Pasti ada yang tidak beres, pikirku. Nah! su’udzon lagi! Setelah saya persilakan, mereka duduk dengan tawadhu’. Sikapnya itu malah membuat saya pekewuh. Saya ini bukan kyai, gus, atau sebangsanya…tapi kenapa dihormati begitu total. Setelah menenangkan pikiran yang dikejar penasaran, saya mencoba berbicara dengan sok dewasa. “Saya disuruh guru saya menemui njenengan,” kata salah seorang pemuda itu. Lha…dalah! Guyonan macam apa lagi ini. Guru anak-anak ini pastinya seorang kyai pengasuh pesantren yang disegani banyak kalangan. Lha kok nyuruh santrinya menghadap saya. Saya mendelik heran. “Apa saya kenal guru sampeyan?” tanya saya. “Ndak tahu. Tadi malam sehabis Isya’…kami dipanggil dan disuruh menghadap Njenengan untuk menanyakan hal penting terkait persoalan ukhuwah dalam Islam,” katanya mantap. Sebalikya, mendengar pernyataan itu, nyaris saya tidak bisa menelan ludah. “Saya ini bukan kyai,” seloroh saya. “Itu tidak penting.” “Juga bukan Gus…!” “Itu juga tidak penting.” “Lha…terus?” saya semakin penasaran. Tanpa sadar, sarung saya nyincing hingga lutut. “Siapapun Njenengan, kata guru saya, Njenengan paling tau persoalan ini,” katanya lagi. Akhirnya, saya nyerah. Sebatang rokok saya hisap dalam-dalam. Apa yang akan terjadi, terjadilah…! “Boleh tau, hal penting apa yang dimaksud guru sampeyan itu?” tanya saya. “Saya merasa malu menjadi orang Islam,” katanya singkat. Mendengar hal itu saya kaget bukan kepalang. Masalah ini tidak ditemukan dalam kitab manapun! “Kenapa malu?” tanya saya spontan. “Sekarang ini, menjadi orang Islam dijadikan bahan tertawaan. Bahan ejekan,” kata pemuda itu. “Jelasnya bagaimana?” Salah seorang pemuda mengeluarkan lipatan koran lusuh dari dalam tas kumalnya. Rupanya koran itu selalu ditenteng kemana-mana hingga pinggirya gripis. “Njenengan baca. Di Aceh, ada razia baju ketat dan celana jeans. Setiap perempuan di sana dilarang memakai jeans dan baju ketat. Dan satu lagi, ini…di Mojokerto ada aliran sesat namanya Santri Loka yang menolak kebenaran dalam Al Quran dan kebenaran umum Islam lainnya. Akhirnya, Islam menjadi bahan tertawaan orang. Saya butuh penjelasan dari Njenengan,” kata mereka pasrah. Jujur, saya bingung juga. Tetapi agar tidak jatuh harga diri, saya gunakan ilmu improvisasi alias jawab sekenanya. “Begini…,” mereka mendengarkan serius layaknya petuah hebat akan keluar dari mulut saya yang belum gosok gigi ini. “Kehancuran Islam, suatu saat nanti akan berasal dari kalangan Islam itu sendiri. Paham!” Dua tamu saya itu makin serius. Saya geli melihatnya. “Artinya, kita sendiri yang menghancurkan Islam?” “Betul! Melarang memakai baju ketat itu melawan arus besar kultur negeri ini. Kita ini bangsa plural. Bukan negara Islam. Mestinya hanya bersifat himbauan bukan aksi razia yang dipaksakan. Tentu saja ditertawakan orang,” kata saya. “Jadi Njenengan setuju orang Islam memakai baju ketat?” kata pemuda itu serius. “Rasul dahulu, tidak pernah merazia kaum kafir yang hidup berdampingan dengan umat muslim. Amar ma’ruf nahi mungkar itu ada tahapannya. Jadi razia itu bukan nahi mungkar ala Rasul.” “Terus tentang aliran sesat itu?” “Segala penyimpangan ajaran pokok Islam itu rahmat dari Allah,” celetuk saya. Dua pemuda tamu saya itu melotot. “Kok begitu?” “Rahmat agar kita semakin mempelajari inti ajaran yang benar untuk meng-counter kesesatan itu. Bagaimana?” “Betul juga,” jawab dua pemuda itu hampir bersamaan. Keduanya tersenyum. “Apa lagi yang mau ditanyakan?” katanya menantang. “Matur nuwun…penjelasannya. Saya pamit dulu mau mampir ke pasar,” jawabnya spontan. “Lho…mau beli apa?” tanya saya. “Beli celana jeans untuk pacar saya yang nanti malam ulang tahun di mualimat,” jawabnya sambil nyengir. Wah!***
**Penulis adalah humas Lembaga Baca-Tulis Indonesia, alumnus Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
|