| Sengkuni, Pemimpin Cerdas dan Culas |
|
|
|
"Yo aku sang Haryo Suman, yo Trigantalpati, yo...Haryo Sengkuni." Dengan gaya bertutur klemak-klemek, sang patih Hastina ( Astina, Ngastina) mengungkapkan jatidirinya. Suaranya datar seribu makna.
Namun, prilakunya cenderung berbuat licik, senang menipu, munafik, senang memfitnah, menghasut, mencelakakan orang lain, dan iri hati. Selalu menyimpan dorongan sadis, “biarlah orang lain menderita yang peting saya bahagia.” Dengan tipu muslihatnya Sengkuni berhasil mengundang Pandawa untuk bermain dadu di Hastinapura. Sesuai rencana Sengkuni bertindak sebagai pelempar dadu Kurawa. Kesaktiannya berhasil mengalahkan Pandawa. Sedikit demi sedikit harta benda, istana Indraprastha, kemerdekaan para Pandawa dan Drupadi jatuh ke tangan Duryudana. Namun Dewi Gandari, ibu para Korawa tidak setuju dengan hasil permaianan judi itu karena juga mempertaruhkan wanita. Duryudana yang kecewa karena Drupadi dan Indraprasta batal menjadi miliknya mendesak Dretarastra, ayahnya untuk menyetujui permainan judi dadu diulang. Pada permainan dadu kedua, Pandawa kembali kalah di tangan Sengkuni. Sebagai hukuman, mereka harus menjalani hidup selama 12 tahun di dalam hutan, dan dilanjutkan dengan menyamar selama setahun di suatu negeri. Jika penyamaran mereka sampai terbongkar, mereka harus mengulangi kembali selama 12 tahun hidup di dalam hutan dan begitulah seterusnya. Ini hanyalah tipu daya Sengkuni untuk bisa menguasai Indraprasta selamanya. Sengkuni tewas dalam perang Bharatayuda di tangan Bima (penegak Pandawa). Berbekal nasihat Kresna, Bima berhasil membunuh Sengkuni dan mengulitinya. Setelah kulit terlepas, tubuh Sengkuni dihancurkan dengan godho Rujakpolo ...............
Dalam tataran kehidupan sehari-hari Sengkuni bisa ada di mana-mana. Di tengah-tengah masyarakat, di tengah pemerintahan atau bahkan dalam diri kita. Semua orang berpotensi menjadi Sengkuni. Tak juga kiai, pendeta, atau mereka yang secara lahir terlihat berlaku baik, bahkan presiden sekali pun. Sengkuni adalah potret dari orang-orang yang licik, penuh intrik politik dengan tujuan utama untuk menyelamatkan diri sendiri dan kepentingan udelnya sendiri. Tak peduli itu mengorbankan orang lain. Menyebar fitnah. Menyalahkan orang lain dengan cara-cara licik. Menuduh orang lain melakukan fitnah untuk menutupi kesalahan dan prilaku buruk diri sendiri. Yang terpenting dari jiwa Sengkuni adalah "menyucikan diri, tetap terlihat baik dan jujur meski berlumur kesalahan dan dosa dengan cara menyalahkan orang lain." Sesakti apa pun manusia pasti akan mati. Demikian pula dengan Sengkuni yang tewas mengenaskan di tangan Bima, orang yang pernah ditipunya. Tiadalah pantas menipu orang yang memberi amanah karena suatu saat ia bisa menggilasmu. |