| Pengakuan Dosa di Atas Jembatan |
|
|
|
Kuperhatikan, diriku semakin tidak terkendali!Mungkin Tuhan sedang tidak berpihak kepadaku. Aku yakin! Aku juga tahu, itu pikiran murtad. Dilaknat! Tetapi telah lama aku singkirkan kosakata itu dari pikiranku. Akibatnya, aku jadi liar dan sulit menangkap arah pikiranku. Terkadang berlarian menembus pekatnya malam, sekedar meraih dosa di ujung gang. Terkadang diam, bukannya berdoa namun mengumpat hingga kehabisan kata. Yang lebih sering, terbang menelusuri jejak masa lalu. Terbang setinggi-tingginya karena aku merasa seolah tubuhku seringan kapas. Maaf, jika terlalu berbelit. Jujur, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Belukar beban di kepalaku terlalu lebat dan kuat untuk kutembus dengan akal waras. Mungkin aku setengah gila! Tuhan membiarkanku gila. Ini lebih gila! Sejak lama aku berkeyakinan jika aku ini bukan apa-apa. Aku teringat ketika Tuhan memberiku harga paling rendah. Harga untuk seseorang yang tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan berkhayal. Itulah takdirku. Takdir yang mestinya disyukuri. Nyatanya justru aku setengah bosan dengan takdir itu. Sebab orang-orang disekelilingku selalu mengatakan kalau aku ‘telah gila’ ketika kucoba menjalani takdir itu dengan sepenuh hati. Matahari bersinar pelan menahan beban. Layaknya saksi atas keliaran pikiranku saat ini. Di sini, di atas jembatan ini kuperhatikan diriku dengan cermat. Tanpa terlewat secuilpun. Jembatan itu tepat berada di tengah kotaku. Membentang dan membelah sungai besar yang hampir setiap tahun meluap. Aku berdiri tegak seakan menantang Tuhan. Bukan menantang! Sekali lagi, aku ini bukan apa-apa. Mungkin tepatnya mengajak Tuhan untuk datang ke atas jembatan itu. Mendengarkan ceritaku yang terlalu berat. Bukankah berbagi persoalan dengan Tuhan lebih baik daripada dengan orang lain yang belum tentu memiliki pendengaran sebaik Tuhan. Jauh di dasar sungai, tepatnya di atas bebatuan besar, terlihat lima anak bermain air. Tawa mereka terdengar samar. Tak jauh di sebelahnya seorang ibu tua mencuci pakaian. Tanpa jenuh, ibu itu membanting-banting pakaian yang telah dilumuri sabun ke atas bebatuan. Cara mencuci yang semakin langka! Ibu tua itu terlihat sangat menikmati. Sementara di dekat semak, seorang lelaki sedang duduk. Diam. Tak melakukan apa-apa. Hanya dua kakinya bergerak-gerak, tercelup ke air. Aku yakin lelaki itu sedang bingung. Entah kenapa… Tepat di bawahku, ada bayangan buram. Itu wajahku! Kugerakkan ke kanan-ke kiri, menoleh dan menggeleng. Benar itu kepalaku! Tetapi terlihat sangat buram. Dari atas jembatan itu, tanpa ragu aku lemparkan kerikil, tepat menusuk ubun-ubunku. Bayangan di air itupun buyar. Beberapa menit kemudian, terlihat lagi. Bahkan lebih buram dan tidak jelas bentuknya. “Kenapa semakin buram, Ya Tuhan?” tanyaku dalam batin. Sepi. Tak ada jawaban. Aku geser beberapa langkah. Namun bayangan di air itu masih saja terlihat. Aku putuskan untuk tetap memelototi bayangan buruk itu. Aku sadar, wajahku semakin buram. Padahal beberapa jam lalu tidak seperti itu. Masih tersisa cerah meski hanya secuil berada di kening. Tapi sekarang… “Kau tentu tahu Tuhan, beginilah wajahku sekarang. Tidak lebih baik dari gundukan sampah yang terjepit di bebatuan, di ujung sungai itu. Harus kuakui, wajah itu jarang kubersihkan dengan air sucimu meski telah kau sediakan cukup banyak. Tapi air itu terlalu dingin. Kau tau kan, Tuhan…aku alergi dingin! Kenapa tidak diganti dengan air yang lebih hangat. Bagus untuk kesehatan kulit muka. Karena pori-pori akan terbuka sehingga jerawat mudah diangkat. Atau…Kau memiliki maksud lain, Tuhan?” kudiamkan batinku tanpa memperoleh jawaban. Semakin lama, wajahku semakin kelihatan buram. Kupanggil anak-anak yang sedang mandi dibawah. Kusuruh untuk mendekati bayangan wajahku. Tetapi, mereka asyik bermain hingga tidak mempedulikanku. Di sini akupun mengumpat. Jika anak kecil saja tidak mempedulikan aku, bagaimana dengan yang dewasa? Aku memang manusia berwajah buram yang mesti dibuang. Memang diriku ini tak pantas dihargai sepeserpun. Kulihat wajahku sebisanya. “Kenapa Kau tambahkan bayangan lain di wajahku, Tuhan? Bukankah itu bapak-ibuku yang lama tidak kusambangi? Dan itu, lelaki yang kuhajar karena berani memelototiku ketika kepalaku terasa berat terisi alkohol. Satu lagi, perempuan itu…aku hajar semalaman di taman kota yang rimbun. Tuhan, aku tidak merencanakan semua perbuatan itu. Cuma satu; pikiranku terkadang susah dikendalikan. Aku hanya menuruti kemana arah jalan keliaranku itu. Uff…! Kenapa mereka Kau bawa-bawa ke sini? Aku memang ingin berbicara baik-baik dengan mereka tetapi tidak dengan cara seperti ini! Tuhan, inikah penyelesaian yang Kau inginkan?” Aku berdiri semakin tegak di pinggir jembatan itu. Anak-anak di bawah sana sudah pergi. Begitu juga ibu tua yang mencuci, entah telah kemana. Lelaki di dekat semak itu pun ikut raib. Tinggal aku. Sendiri. Sepi. Menatap wajahku yang semakin tidak bisa aku pahami. “Baiklah…dari atas jembatan ini, kujelaskan semua. Memang wajah itu tidak layak bersih. Mestinya belukar paling rimbun tumbuh di sana. Menghiasi hidung, telinga, mulut, kening, dagu, hingga leher. Atau, mestinya lebih buruk dari itu! Wajah Tuhan itu memang telah lama kuganti dengan wajah kusamnya dunia. Hingga tuhan mati sebelum waktunya. Aku ingat, Zarathustra menjelaskan panjang lebar tentang kusamnya dunia yang lama ditinggalkan tuhan,” kataku kesal. Kuludahi wajahku. Buram. Dan bayangan itupun buyar sebelum seluruh pengakuanku selesai.*** |