| Saldo Kesalahan |
|
|
|
Sedikit menyiksa memang jika kita melakukan suatu kesalahan dan selalu terngiang-ngiang di kepala tentang kesalahan yang kita buat tersebut. Terlebih lagi jika kesalahan tersebut melibatkan orang-orang terdekat kita, mungkin rasanya beragam mulai dari malu, tersiksa batin, susah tidur, atau mungkin ingin melakukan operasi plastik untuk mengganti wajah. Hehehe.. terkesan becanda namun pada kenyataannya ini masalah yang cukup serius, karena tidak bisa memaafkan diri sendiri sangat berpotensi untuk menimbulkan trauma yang sangat mungkin membuat seseorang tidak bisa hidup “normal”. Dan tulisan ini diperuntukkan untuk orang-orang yang sulit memaafkan dirinya sendiri.Perasaan bersalah memang sangat diperlukan, adanya perasaan bersalah bukan hal buruk jika kita menyikapinya dengan tepat. Adanya perasaan bersalah itu menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki perasaan malu dan takut, artinya paling tidak masih ada keimanan dalam hatinya. Analoginya begini, misalkan hati kita adalah sebuah kertas dan noda hitam adalah kesalahan yang kita perbuat. Jika perasaan bersalah muncul di hati yang bersih maka seperti noda hitam yang ada di kertas yang putih, sangat mengganggu dan ingin segera dibersihkan. Lalu bayangkan jika seandainya kertas tersebut berwarna hitam, noda hitam tentunya tak akan jadi pengganggu karena memang tidak mengubah kehitaman kertas tersebut. Kertas hitam itulah yang diibaratkan sebagai hati yang sudah kebal dengan kesalahan, sudah terbiasa melakukan kesalahan dan seolah tak memiliki perasaan bersalah sedikitpun. Jadi, pertama-tama bersyukur dahulu karena hatimu bukanlah kertas hitam karena masih memiliki keresahan hati akan suatu kesalahan.“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka seseungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Q.S An-Nazi’aat: 40-41) Masalahnya terkadang perasaan bersalah yang berlebihan mampu memberikan tekanan batin yang luar biasa. Bahkan mampu membuat seseorang berputus asa dan yang terparah adalah muncul niatan untuk mengakhiri hidup sendiri. Naudzubillah. Karena itulah perasaan bersalah wajib kita kendalikan untuk menghindari dari keputusasaan.“…jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah . Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Q.S Yusuf: 87) Beberapa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan rasa bersalah antara lain adalah : Salah itu Manusiawi, Lebih baik Akui daripada ditutupi. Tak ada orang yang sempurna 100% tanpa dosa di bumi ini. Setiap orang pasti pernah berbuat salah entah kesalahan kecil ataupun kesalahan besar. Bahkan semakin tinggi kedudukan seseorang semakin besar godaan untuk berbuat salah. Tidak ada untungnya menutupi sebuah kesalahan yang kita kerjakan, lebih baik segera akui dan hindari dari berbohong untuk menutupinya. Toh, Allah Maha Mengetahui segala perbuatan makhluknya. Jika perbuatan salah tersebut melibatkan urusan orang lain segera datangi dan minta maaf padanya, Insya Allah hati menjadi lebih lega dan akan lebih mudah memaafkan diri sendiri.Yakinlah Allah itu Maha Pengampun“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Q.S an-Najm: 32). Janganlah menghakimi diri kita sendiri dengan perasaan bersalah. Allah saja bukan Zat yang dzalim, yang menutup kebaikan bagi kita. Selalu ada jalan untuk kembali ke jalan-Nya selama ajal belum menjemput. Tentu saja dengan taubat yang sungguh-sungguh, alias taubatan nasuha yang berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan jelek tersebut. Tambal Dengan Kebaikan:Anggaplah sebuah tabungan dimana kesalahan berarti mengurang saldo, dan berbuat baik adalah melakukan setoran tunai. Jika melakukan kesalahan segeralah mengerjakan kebaikan untuk menjaga saldo tabungan kita tidak terkuras. Jadikan Pelajaran :Berbuat salah memang “pahit” rasanya, namun akan berarti positif bagi kita jika dijadikan sebagai pelajaran. Dari kesalahan kita semakin sadar betapa pahit dan mahalnya harga sebuah kesalahan. Maka jadikan kesalahan yang kita perbuat sebagai pelajaran berharga, bukan hanya sekedar kenangan.Wallahuallam… Hidup memang banyak masalah apalagi dalam keluarga yang mem banding2kan antar saudara dengan saudara yang lain,sedangkan yang dianggap kurang menguntungkan kurang diperdulikan.Tapi sy rasa sebagai seorang manusia atau muslim,kita harus siap kan segala resiko yang akan kita hadapi.Mungkin ini adalah ujian dari Alloh swt untuk berperan lebih baik lagi dalam masa2 yad.Maka guru saya,alm.Buya,selalu mengatakan kepada saya"Nak,belajarlah untuk ikhlas!!".Apabila kita bisa memegang prinsip sep.ini,Insya Alloh jalan pasti terbuka secara per lahan2 sesuai dengan Qodo dan Qodar Allah.Ada saat kita mengalami kebosanan dalam kehidupannya. Gairah hidupnya seakan menurun tajam, semangat juangnya hampir habis. Merasa lelah sudah berjuang keras dalam hidupnya, namun...... belum mencapai keberhasilan yang diinginkannya. Hidupnya merasa gagal.... frustasi..... kecewa, stress bercampur menjadi satu. ... Dunia seakan runtuh baginya..... Setiap orang pernah merasakan suatu kekecewaan, kegagalan dan frustrasi dalam hidupnya. Bahkan kadang semuanya bisa datang sekaligus menimpa seseorang. .... Kalau sudah demikian, kita merasa dunia seakan runtuh. Hidup menjadi terasa berat dan seperti memikul beban tinggi. Banyak orang kemudian melihat segala sesuatunya dari sisi negatif. ... Segala sesuatunya terlihat berantakan dan sangat mengesalkan.... |