|
Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bersama bahwa Allah Yang Maha Bijaksana telah memberikan kepada kita salah satu kenikmatan yang besar yaitu berupa lisan. Kalau kita cermati, nikmat ini sungguh ajaib. Dengan sebab lisan orang bisa meraih surga, dengan sebab lisan pula orang bisa tergelincir ke dalam neraka.
Rasulullahu shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang bisa menjamin bagiku sesuatu yang ada di antara kedua janggutnya (yaitu lisan) dan sesuatu yang berada di antara kedua kakinya (yaitu kemaluan) maka aku jamin ia dengan surga.” (HR. Bukhori). Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda, ”Sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan suatu kalimat dengan tanpa memikirkannya (terlebih dahulu), yang dengan sebab itu ia tergelincir ke dalam neraka yang kedalamannya lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhori Muslim)
Keajaiban Lisan
Para pembaca yang mulia, lisan mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Melalui lisan, orang yang awalnya kafir bisa menjadi muslim yaitu dengan ucapan dua kalimat syahadahnya. Melalui lisan pula, orang yang awalnya adalah seorang muslim bisa menjadi kafir. Kapankah hal ini terjadi? Para pembaca yang budiman, mungkin di antara kita ada yang beranggapan bahwa seseorang menjadi kafir (murtad) hanyalah manakala ia mengganti KTP-nya dengan agama lain. Anggapan ini perlu kita luruskan. Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam Kitab-Nya, demikian pula Rasulullahu shallallahu ’alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya telah menerangkan kepada kita bahwa ada beberapa perkara yang apabila dilakukan oleh seorang muslim, dapat membatalkan keislamannya. Salah satu di antaranya adalah perkara yang berhubungan dengan lisan (lidah) yaitu tatkala ia digunakan untuk mengolok-olok Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya serta agama Islam secara umum.
Guyonan Maut
Para pembaca yang mulia, menjadikan agama Islam sebagai bahan olok-olokan merupakan salah satu bentuk kekafiran walaupun hal itu semata-mata hanya dilakukan dalam rangka bercanda.Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, ”Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yaitu Rasulullahu shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.” (Mendengar hal ini), Auf bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata kepada orang tersebut, ”Engkau dusta, kamu ini munafik. Akan aku laporkan ucapanmu ini kepada Rasulullahu shallallahu ’alaihi wa sallam.” Maka Auf bin Malik radhiyallahu ’anhu pun pergi menghadap Rasulullahu shallallahu ’alaihi wa sallam. Namun sebelum Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ’alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersendau gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai bahan bercanda mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, ”Wahai Rasulullahu, kami tadi hanyalah bersendau gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”
Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, ”Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rosulullah sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, ‘Kami tadi hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah), ”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66). Beliau mengucapkan itu tanpa berpaling kepada orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR.Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan)
Berhati-Hati Dalam Menggunakan Lisan
Para pembaca yang budiman, dari hadits di atas, kita mengetahui bahwa seseorang bisa menjadi kafir disebabkan oleh lidahnya, yaitu tatkala menjadikan agama sebagai bahan olok-olokan. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu berhati-hati di dalam keseharian kita. Jangan sampai tatkala kita menjumpai orang yang berpegang teguh dengan nilai-nilai keislaman, kita mencela orang tersebut karena terlihat lucu bagi kita. Seperti orang yang memanjangkan jenggotnya dalam rangka mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, kemudian orang ini dijuluki dengan ”Si Kambing” atau yang lainnya dari gelar-gelar yang buruk. Hal ini dikhawatirkan bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kekafiran karena telah mengolok-olok syiar Islam. Na’udzubillah. Hendaklah kita selalu menjaga lisan kita dan menggunakannya untuk hal-hal yang baik.
Agama Islam telah mengatur bagaimana mempergunakan nikmat yang agung berupa lisan ini. Rosululloh shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhori Muslim). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Makna hadits ini adalah apabila seseorang ingin berbicara maka hendaklah ia memikirkannya terlebih dahulu. Apabila telah jelas baginya bahwa ucapannya tersebut tidak berbahaya, maka berbicaralah. Apabila dalam ucapan teraebut ternyata mengandung bahaya atau masih ragu-ragu (apakah berbahaya atau tidak, pen), hendaklah ia menahan ucapannya.”
Berhati-Hati Dalam Bersikap
Para pembaca yang budiman, perlu juga untuk kita ketahui bahwa mengolok-olok agama ada dua model. Pertama yaitu model olok-olokan secara jelas dan terang-terangan. Contoh model pertama ini adalah seperti dalam kisah hadits di atas. Model olok-olokan yang kedua adalah dengan cara tidak terang-terangan (sindiran). Contoh model ini seperti berisyarat dengan mata (dalam rangka menghina Islam dan syiar-syiarnya), menjulurkan lidah, meludah dan lain-lain. Bentuk ini pun termasuk kekafiran.
Pelecehan terhadap agama amatlah besar di sisi Allah. Seorang muslim wajib untuk menghindari perkara ini dan menghindari tempat-tempat di mana ayat-ayat Allah dijadikan bahan ejekan. Allah berfirman yang artinya, ”Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An-Nisa’: 140). Orang yang mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan dilecehkan sedangkan ia duduk bersama orang-orang yang sedang melecehkan ayat-ayat Allah serta ridho untuk duduk bersama mereka, maka ia juga mendapatkan dosa sebagaimana orang-orang yang melecehkan ayat-ayat Alloh dan ia juga telah kafir keluar dari Islam.
Catatan Penting:
Para pembaca yang budiman, sebagai faidah tambahan, agama Islam yang lurus juga melarang bagi para pemeluknya untuk bersendau gurau dengan sesuatu yang bersifat bohong-bohongan (dusta). Perbuatan ini juga dilarang walaupun tidak sampai derajat kekafiran, dengan syarat bahan guyonannya itu bukan permasalahan agama. Ini merupakan salah satu di antara kemuliaan Islam di mana mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa menjaga diri dari kedustaan walaupun hanya dalam rangka guyonan. Rasululah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Kecelakaan bagi seseorang yang bercerita dan ia berdusta (dalam ceritanya) untuk membuat orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya. Kecelakaan baginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i dengan isnad yang kuat) Alangkah sedikitnya orang di zaman kita yang terbebas dari perkara ini. Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar menjaga lisan dan segala gerak-gerik kita dari hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan Allah Azza wa Jalla. Wallahu A’lam.
|