|
Di koran, di televisi, di berbagai media elektronik lainnya, semua berbicara tentang 'budaya warisan', 'kesalahan sistematis', dan 'dosa kolektif' terkait korupsi. Begitu banyak istilah lain, itu sah-sah saja dipakai sebagai gambaran betapa kecurangan hati nurani yang terbingkai dalam kata korupsi itu telah mengakar dalam kehidupan bersosial, kehidupan bermasyarakat, bahkan kehidupan berbangsa di negeri tercinta ini.
Korupsi di negeri ini, ibarat benalu yang juga ikut tumbuh subur seiring tumbuhnya pohon induk. Dia juga bagai tali putri yang menghisap kehidupan tanaman perdu yang seharusnya elok, subur dan rapat memagar sebuah taman. Bila tak ada seorang pun yang tergerak untuk mengeksekusinya sampai tuntas tas tas ..manalah bisa sang pohon inang kan bebas merdeka menormalkan sistem hidupnya.
Parasitisme (baca:korupsi) telah menghambat proses fotosintesis berjalan sempurna, kesuburannya telah menghalangi energi sang surya yang menjadi unsur terpenting dalam mata rantai kehidupan tanaman (baca:negara).
Ranting-ranting muda yang rindukan tumbuh di antara cabang-cabangnya, daun-daun yang seharusnya menghijau lebat, batang yang membesar dengan kandungan kambium bebas melapisnya, bunga, buah dan semua bagian lain yang tak leluasa dalam mendapatkan haknya.
Ditebas Tuntas
Pengandaian lain atas carut marutnya 'kisah sinetron' berjudul 'koruptor' di negeri ini adalah segulung besar benang ruwet dan kusut. Tak jelas mana ujung, dan mana pangkal. Yang nyata semua yang terlibat, terlindung dan akhirnya lolos karena keruwetan itu.
Dalam keruwetan itu siapa yang maling, mana yang kemalingan, mana yang ditangkap, mana yang menangkap.. menjadi kabur. Padahal ...sebagai penonton, kita justru bisa melihat dengan gamblang bahwasanya semuanya yang terlibat dalam upaya penguraian benang kusut itu sebenarnya telah ambil peran dan bagian dalam terciptanya kekusutan itu sendiri. Yang membedakan satu dan lainnya (bisa jadi) hanya porsi atau bagiannya. Bila 'hujan merata', bila tidak ada yang merasa 'teraniaya', mungkin tak akan pernah ada yang namanya 'jujur' dan 'Lillahita'ala' tulus untuk negeri ini.
Maaf kalau saya punya istilah sendiri yang menggambarkan betapa lugu dan baik hati kita ini: ..berawal dari kata 'dikhianati' ..kita jadi empati ..lalu bersimpati ..jadikanlah dia imam sejati ..yang dalam perjalanannya Manasati ..akhirnya jadi antipati. Hi hi ..lucu sekali...
Kalau mau jujur (tapi apa ada aparatur negara yang mau), episode tanpa akhir di negri ini sebenarnya bisa teratasi ..caranya? Ya amputasi ..sistem atau aturan kepegawaian yang terlalu lunaklah yang membuat semuanya jadi tradisi dan menjadi warisan turun temurun yang tidak terkendali. Yang selama ini terjadi, jika ketahuan melakukan korupsi, mayoritas sanksi yang diberikan, berupa mutasi atau nonjob. Terlalu ringan diterapkan untuk sebuah 'dosa' yang dilakukan seorang pegawai negeri dan alat negara. Bahkan dalam kondisi nonjob pun mereka masih tetap dapat gaji .. Kalaupun ada pemecatan, untuk satu kasus yang sangat besar, muaranya adalah untuk meredam gejolak sosial. Alangkah bijaknya bila sanksi yang sama (pemecatan) berlaku untuk semua 'dosa korupsi' tanpa terkecuali. Tapi balik lagi, apa mau, apa ada nyali, apa berani mendobrak tradisi dan patron warisan yang telah turun temurun terjadi ..jawabnya ..tanyakan pada rumput yang bergoyang ...
Malang,11 May'10
=================================
**Penulis adalah perempuan biasa yang mencoba peduli sekitar
|