REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Jumat, 10 Februari 2012 | Welcome : Tamu |
Home Cermin Hai Bung, Berani Mendobrak Patron??
Suci Gulangsari
Ditulis oleh Suci Gulangsari   
Posted : Selasa, 11 Mei 2010 06:52


Hai Bung, Berani Mendobrak Patron?? PDF Print E-mail


Di koran, di televisi, di berbagai  media elektronik lainnya, semua berbicara tentang 'budaya warisan', 'kesalahan sistematis', dan 'dosa kolektif' terkait korupsi. Begitu banyak istilah lain, itu  sah-sah saja dipakai sebagai gambaran betapa kecurangan hati nurani yang terbingkai dalam kata korupsi itu telah mengakar dalam kehidupan bersosial, kehidupan bermasyarakat, bahkan kehidupan berbangsa di negeri tercinta ini.

korupsiKorupsi di negeri ini, ibarat benalu yang juga ikut tumbuh subur seiring tumbuhnya pohon induk. Dia juga bagai tali putri yang menghisap kehidupan tanaman perdu yang seharusnya elok, subur dan rapat memagar sebuah taman. Bila tak ada seorang pun yang tergerak untuk mengeksekusinya sampai tuntas tas tas  ..manalah bisa sang pohon inang kan bebas merdeka menormalkan sistem hidupnya.

Parasitisme (baca:korupsi) telah menghambat proses fotosintesis berjalan sempurna, kesuburannya telah menghalangi energi sang surya yang menjadi unsur terpenting dalam mata rantai kehidupan tanaman (baca:negara).

Ranting-ranting muda yang rindukan tumbuh di antara cabang-cabangnya, daun-daun yang seharusnya menghijau lebat, batang yang membesar dengan kandungan kambium bebas melapisnya, bunga, buah dan semua bagian lain yang tak leluasa dalam  mendapatkan haknya.

Ditebas Tuntas


Pengandaian lain atas carut marutnya 'kisah sinetron' berjudul 'koruptor' di negeri ini adalah segulung besar benang ruwet dan kusut. Tak jelas mana ujung,  dan mana pangkal. Yang nyata semua yang terlibat, terlindung dan akhirnya lolos  karena keruwetan itu.

Dalam keruwetan itu siapa yang maling, mana yang kemalingan, mana yang ditangkap, mana yang  menangkap.. menjadi kabur. Padahal ...sebagai penonton, kita justru bisa melihat dengan gamblang bahwasanya semuanya yang terlibat dalam upaya penguraian benang kusut itu sebenarnya telah ambil peran dan bagian dalam terciptanya kekusutan itu sendiri. Yang membedakan satu dan lainnya (bisa jadi) hanya porsi atau bagiannya. Bila 'hujan merata', bila tidak ada yang merasa 'teraniaya', mungkin tak akan pernah ada yang namanya 'jujur' dan 'Lillahita'ala' tulus untuk negeri ini.

Maaf kalau saya punya istilah sendiri yang menggambarkan betapa lugu dan baik hati kita ini: ..berawal dari kata 'dikhianati' ..kita jadi empati ..lalu bersimpati ..jadikanlah dia imam sejati ..yang dalam perjalanannya Manasati ..akhirnya jadi antipati. Hi hi ..lucu sekali...korupsi

Kalau mau jujur (tapi apa ada aparatur negara yang mau), episode tanpa akhir di negri ini sebenarnya bisa teratasi ..caranya? Ya amputasi ..sistem atau aturan kepegawaian yang terlalu lunaklah yang membuat semuanya jadi tradisi dan menjadi warisan turun temurun yang tidak terkendali. Yang selama ini terjadi, jika ketahuan melakukan korupsi, mayoritas sanksi yang diberikan, berupa mutasi atau nonjob. Terlalu ringan diterapkan untuk sebuah 'dosa' yang dilakukan seorang pegawai negeri dan alat negara. Bahkan dalam kondisi nonjob pun mereka masih tetap dapat gaji .. Kalaupun ada pemecatan, untuk satu kasus yang sangat besar, muaranya adalah untuk meredam gejolak sosial. Alangkah bijaknya bila sanksi yang sama (pemecatan) berlaku untuk semua 'dosa korupsi' tanpa terkecuali. Tapi balik lagi, apa mau, apa ada nyali, apa berani mendobrak tradisi dan patron warisan yang telah turun temurun terjadi ..jawabnya ..tanyakan pada rumput yang bergoyang ...

 

Malang,11 May'10

 

 

=================================

**Penulis adalah perempuan biasa yang mencoba peduli sekitar

 
Haji dalam 'Kejaran' Debt Collector

INI KISAH unik dari peristiwa yang saya saksikan...
Rasa Keadilan

  Rasa keadilan itu setiap saat ditunggu-tunggu...
Sholat dan Kecantikan Diri

Shalat tidak hanya ritual sebagai ketaatan dalam...
Pengakuan Dosa di Atas Jembatan

Kuperhatikan, diriku semakin tidak terkendali!...
Negara Tanpa Penjara

Ide yang terbaca dalam judul tersebut, mungkin...
Orang Islam Wajib Kaya

  Oleh:Taufiq El-Rachman     Judul tulisan...
Menangislah!

    Menangislah!Ketika diri tidak ringan...
Cerita Secangkir Kopi Pahit

Ini kisah tentang kopi!Secangkir kopi yang mampu...
Posisi Strategis Al Qurán Dalam Pendidikan

Bagi umat Islam, al Qurán adalah kitab suci yang...
ABG sayang, ABG malang

ABG (Anak Baru Gede) adalah sebutan bagi remaja...
Hai Bung, Berani Mendobrak Patron??

Di koran, di televisi, di berbagai  media...
Sabar Hadapi Perjuangan

"Sabar dalam menghadapi perjuangan ialah...
'Takwa' Bagi Calon Pemimpin

Dalam salah satu kata Mutiara, ada ungkapan...
Allah Menerima Taubatmu ...

Allah Subhaanahu Wa Ta'ala denga Firman-NYA "....
Ketangguhan Yang Menghibur

  Sudah banyak orang pintar mengatakan jangan...