| Ling Ling 26 (Azam dan Merah Delima) |
|
|
|
|
Berkali-kali Ling Ling mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya tentang hakikat Merah delima yang dicarinya, namun belum juga menemukan keyakinan atas jawabannya. Semangat yang tidak setabil, senantiasa ia coba untuk menaklukkanya, agar tumbuh azam atau kemauan yang keras dalam menggapai apa yang diharapkannya sehingga pengembaraannya menghasilkan sesuatu dalam penempaan jiwanya.
Azam atau azimah adalah suatu perangai atau sifat yang selalu dimilki Rasul-rasul Allah. Terutama lima Nabi yaitu Nuh AS. Ibrahim AS. Nabi Musa AS. Nabi Isa AS. dan Nabi Muhammad SAW. Kalima Rasul itulah yang dikenal dengan gelar ULUL AZMI artinya yang memiliki kemauan keras. Berbagai cobaan dan rintangan yang dihadapi dalam memperjuangkan sebuah keyakinan untuk merombak peradaban agar menjadi bersinar dengan pancaran Nur Illahi, selalu bisa diatasi. Hal itulah yang membuat Ling Ling menjadi sadar bahwa semakin tinggi derajat kerasulan maka semakin beratlah ujian yang dihadapinya. Begitu pula auliya’, ulama, dan anak shaleh, bila semakin tinggi derajatnya, nisacaya semakin berat cobaan dan tantangan hidupnya. Seperti yang digambarkan dalam al-quran Surat Ibrahim ayat 24, 25 dan 26 artinya, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Dalil tersebut memberikan inspirasi bagi Ling Ling bahwa ibarat pohon yang tinggi niscaya semakin kencang angin yang menerpanya, sehingga hal itu membuat Ling berusaha menumbuhkan keyakinan yang kuat dalam hatinya, agar dapat mengatasi segala tantangan yang dihadapi dalam pengembaraannya dan tidak terombang ambing oleh situasi apapun. “Anakku, ingatlah I’timadun Nafsi Asasun Najah, keteguhan jiwa adalah pangkal dari keberhasilan. Oleh sebab itu anakku, tumbuhkan keyakinanmu agar kamu dapat mengatasi segala rintangan yang kau hadapi”, demikian kenang Ling Ling atas wejangan ayahnya. Maka, saat itu, Ling Ling menjadi bergairah kembali untuk menjalani petualangannya. Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju Stasiun Kereta Api Pasar Senin. Lalu dia naik kereta Kertajaya hendak menuju Surabaya. Dalam perjalanannya menuju Surabaya, pikirannya mengotak-atik, “Kalau di pikir, Merah delima berasal dari kata Merah dan Dalima, kemudian karena perubahan dialeg, dalima menjadi delima. Menurut Kirata Basa Jawa, Merah berarti “Menjabarkan Surah” Dalima adalah “Dal Lima”. Merah Dalima berarti menjabarkan surat yang dalnya ada lima”, demikian renungan Ling Ling. Surat yang dalnya ada lima adalah Surat Al-Ahlas, yaitu; Qul Huwallahu Ahad. Allahush-shamad. Lam Yalid Walam Yuulad. Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad. Artinya, Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Dinamakan Al Ikhlas karena surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian keesaan Allah s.w.t. Pokok-pokok isinya adalah penegasan tentang kemurnian keesaan Allah s.w.t. dan menolak segala macam kemusyrikan serta menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya. “hmm aku mengerti sekarang, yang dikatakan merah delima itu juga mengandung makna bahwa aku hendaknya bisa mencapai kemurnian tauhid dengan cara ihlas. Setelah itu aku memiliki tugas untuk selalu menjabarkan atau menyebarkan kepada umat manusia agar tetap terpelihara keimanannya pada Allah SWT”, demikian pemahaman Ling Ling. “hebat juga, ulama’-ulama’ terdahulu dalam memberi sandi, Satu sisi Merah Delima berwujud batu mulia yang dapat memancarkan cahaya luar biasa, disisi lain dapat menimbulkan aura dan daya sakti tiada tanding bagi yang memilikinya. Namun juga memiliki makna tauhid sebagaimana yang terkandung dalam surah Al-Ikhlas yang menancap dihati dan selalu diajarkan kepada umat manusia. Dan yang demikian itulah kesaktian yang sesungguhnya”. “hmm, pantas saja Raden Intan yang memiliki batu Merah Delima, mudah dikalahkan oleh Sayyidina Ali, karena dia belum bertauhid. Tentunya bila keduanya dipadukan akan menjadi kekuatan Luar biasa. Karena hanya orang yang murni ketauhidannyalah dan mengakkan tauhid umat manusia yang pantas menjadi kekasihnya Allah”, demikian pemahaman Ling Ling. Allah SWT berfirman dalam Surat Yunus ayat 62 artinya. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Huda Alam, Padepokan, 09-07-2010 |