|
Tak nampak greget peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus kali ini. Padahal, biasanya, hari-hari seperti ini begitu semarak dengan berbagai kegiatan di kampung. Gapura yang dicat, umbul umbul yang menghiasi seluruh kota, lampu lampu penjor yang begitu indah di Balai Kota, di Pendopo Kelurahan dan di Kantor Kecamatan. Tahun ini sepi, tak terasa greget memperingati Ulang Tahun kemerdekaan Negara Indonesia yang sudah memasuki usia ke 65.
A pakah karena bertepatan dengan bulan ramadhan ? Bisa jadi iya, namun bisa juga tidak! Mungkin ini suatu pertanda bahwa telah ada pergeseran nilai, pergeseran semangat pada masyarakat Indonesia dalam memperingati hari kemerdekaan negara tercintanya ini. Asumsi tentang pergeseran nilai dan semangat ini bisa jadi lantaran pengaruh melonjaknya harga berbagai kebutuhan pokok masyarakat saat ini. Kenaikan harga daging AYAM, TELOR, BERAS, MIGOR, BAWANG PUTIH, DAGING SAPI sampai HARGA LOMBOK yang sudah enggak masuk akal, kata para emak, sudah cukup menyita energi. Membuat mereka tidak lagi berfikir lain selain sembako. Namun, saya tetap berharap kurang gregetnya peringatan HUT kali ini, semoga bukan lntaran hal itu . Sebab, tahun 1998 lalu, bangsa ini juga pernah terkena krisis ekonomi (krismon) yang begitu dahsyat, namun kemeriahan itu tetap terlihat. Semangat untuk memperingati tonggak sejarah itu juga tetap tinggi.
Atau karena sekarang ini bertepatan dengan ramadhan , bulan puasa? Kalau memang itu alasannya, seolah bangsa ini tak mau bercermin pada sejarah. Bangsa ini MERDEKA pada bulan Ramadhan! Semangat bangsa ini begitu hebat untuk mengukuhkan jati dirinya sebagai bangsa yang bermartabat, bukan sebagai bangsa KACUNG yang diperintah oleh bangsa lain. Cita cita yang MULIA pendiri bangsa ini, seolah bertolak belakang dengan keadaan bangsa saat ini. HANYA” memperingati proklamasi 17 Agustus saja bangsa ini sudah nampak begitu loyo.
Sedikit mengingat yang sebelum-sebelumnya, kalau pas 17 agustusan begini, gapura - gapura kampung biasanya dihias beraneka macam karena sebuah media besar yang berkantor pusat di Surabaya rutin menggelar lomba menghias GAPURA. Wajar bila hampir di semua sudut kota, di berbagai instansi terlihat begitu semarak dengan suasana perayaan. Namun, rutinitas seperti itu, tahun ini, nampaknya tak ada lagi. Pawai alegoris sebagai penutup dan panggung hiburan untuk menunjukkan kreatifitas warga juga sudah tak banyak yang dilaksanakan. Betulkah karena BULAN RAMADHAN?
Selain semarak lomba, “Renungan Malam” juga biasa digelar dalam peringatan HUT RI. Biasanya, acara ini digelar malam menjelang tanggal 17. Di kegiatan ini, ada bermacam makanan enak, karena setiap KK (kepala keluarga), mengirimkan makanan sesuai dengan selera keluarga. Yang menjadi inspirasi saya bukanlah soal apa makanannya, namun makanan ini sangat di tunggu-tunggu oleh beberapa orang yang kurang beruntung ..terutama bagi para gelandangan dan pengemis (gepeng). Yang sudah-sudah, biasanya para gepeng ini selalu mengintai dari kejauhan. Sehingga begitu acara renungan bubar, mereka mendekat pada kotak kotak atau tampa berisi tumpeng yang tak habis (bersisa). Disinilah peran para GEPENG itu. Mereka membereskan semua yang ada hingga kampung nampak bersih kembali.
Namun, semalam, nyaris tak ada sisa makanan buat mereka. Mereka nampak sedih, harapan yang sudah direncanakan (angan) mereka pupus malam itu. Harapan makan enak, berganti dengan kekesalan yang mereka pendam, mau protes mereka tidak berani, karena ini bukan acara mereka. Padahal, mereka adalah masyarakat yang termarginalkan secara ekonomi dan sosial, mereka adalah anak cucu pemilik bangsa ini, mereka berharap keMERDEKAan ini juga dapat menjadi titik balik dirinya untuk menjadi manusia yang lebih berguna, seperti cita-cita pendiri bangsa ini. Apalah daya, kenyataan berubah, bangsa ini seolah kembali lagi menjadi bangsa KACUNG, menjadi bangsa yang selalu berharap bangsa lain untuk berbelas kasihan. Semoga ada perubahan “BATIN”, pemegang dan penerus kepemimpinan bangsa ini.
Ingat kata kata bapakQ dulu, saat melihat para GEPENG itu Lesu, kata pakaQ : “Azmi, kalo kamu selamatan atau apa saja yang mengundang banyak orang, jangan lupa sisakan meja khusus atau tempat duduk khusus untuk orang orang kurang mampu, agar mereka turut senang dalam kegembiraan kamu, siapa tahu justru doa mereka itu yang di Ijabah Gusti Allah ?”, kontan saya nangis, lelehan air mata tumpah tak terasa, melihat mereka (para gepeng) yang mengais ngais sisa sisa makanan yang hampir ta ada itu, ku panggil salah satunya, saya tanya, sampean kok nampak murung malem ini?, iya pak, malem ini tak ada sisa makanan yang dapat saya bawa pulang, Ya Robbi !, tadi saya sudah berbuka puasa, sekarang saya masih tetep aja menelan makanan yang enak enak, sedangkan mereka harus menangis ngais sisa sisa kami, asa mereka tak dapat diwujudkan. Pak, Bu sampean tunggu disini yaaa !, saya pulang mengambil beberapa lembar uang yang masih tersisa, tak banyak memang semoga ini dapat mereka belanjakan malem ini untuk membeli makanan sebagai ganti kegundahan hati mereka, matur suwun pak, jangan matur suwun yaa, maapkan saya ga bisa memberikan lebih untuk sampean, semoga lembaran itu cukup untuk keluarga sampean.
Kita pekikkan MERDEKA MERDEKA bukan diplesetkan MEREKA MEREKA ……………kaum NEOLIB.
"Marilah BELAJAR berEMPATI pada wong Cilik saat kita ber senang senang,
siapa tahu justru doa mereka yang di-ijabah Gusti Allah, untuk diri kita"
|