|
Aku mungkin tidak akan pernah mempercayai ini, bila tidak bertemu langsung dengan perempuan itu. Perempuan cantik, muda, yang selama ini hanya kukenal melalui koran dan media lokal. Meski profesiku sebagai jurnalis dan sering membuat laporan tentang kegiatan-kegiatan daerah, namun baru kali itu aku bertatap muka dengannnya. Entahlah di sisi lain hatiku ada perasaan kasihan, ikut prihatin dengan keadaannya. Namun di sisi lain pula, ada perasaan marah, cemburu, dan sakit hati yang luar biasa.
Bagaimana tidak? Ternyata aku (sebut saja Mila) dan dia (sebut Rini), tanpa sengaja, adalah sama-sama korban orang yang sama, Dino sebut saja begitu. Dia adalah seorang pejabat teras di salah satu propinsi di negri ini (maaf, aku tak bisa menyebutkannya di sini). Pertemuanku dengan Rinipun sebenarnya tak pernah kurencanakan. Bisa dibilang ini 'pertemuan rahasia' yang diatur Norman (nama samaran), teman seprofesiku. Kata Norman, ada berita besar dan memalukan yang bisa ku ekspos untuk menaikkan popularitasku di tempat kerja, sekaligus bisa untuk melampiaskan sakit hatiku.Pasalnya, selama ini Norman adalah orang yang jadi teman curhatku. Dia tahu betul bagaimana lika liku kehidupan cintaku hingga usia kepala tiga ini belum juga berani melangkah, mencari teman hidup.
Memang, ini semua bukan mutlak kesalahan Dino. Aku juga merasa terlalu bodoh untuk bisa terjebak dalam permainan ini. Parahnya lagi, ketika aku melakoni kesalahan terbesar dalam hidup itu, profesiku adalah sebagai wartawati daerah dari sebuah media terkemuka di tanah air. Tapi, kembali lagi, wartawati sekalipun adalah manusia biasa, bisa melakukan kesalahan yang manusiawi ..apalagi bila menyangkut perasaan hati dan cinta. Terlebih aku adalah perempuan lajang yang masih merdeka.
Tapi itu cerita lalu, sekitar 4 tahun lalu, ketika aku masih beberapa bulan menjalani profesiku sebagai pemburu berita. Aku sudah berusaha melupakannya, meski sulit sungguh. Karena apapun kami pernah melewati sebuah malam bersama, di sebuah hotel di pinggiran kota. Aku, dengan segala kebodohanku telah menyerahkan kehormatanku hanya karena tertutup rasa cinta gila, perasaan bangga (atau bisa dibilang naif) karena sering mendapatkan perlakuan dan kesempatan istimewa dengannya, perasaan bahagia karena segala bentuk kemanjaan yang diberikan dia. Aku, seakan begitu mudahnya terpengaruh oleh janji-janji selangitnya. Bahkan, dia sempat bilang bila istrinya saat itu sedang menderita kanker dan divonis dokter hidupnya tak akan lama. Itulah aku, kadang setiap kali aku berfikir, mengapa aku begitu tega ..menari-nari di atas penderitaan perempuan lain.
Tapi memang cinta bukan hanya sempat membuat aku buta, tapi juga gila. Kalaupun akhirnya aku bisa menghentikan kegilaan itu, dan bisa kembali melek atas kesalahanku, tak lain karena jasa Norman yang saat itu masih bujang dan selalu berupaya mengingatkan aku. Sungguh, lantaran perasaan cintaku yang membuncah pada Dino, aku bahkan tak peka dengan perasaan dan perhatian Norman kepadaku. Mungkin karena frustasi dengan fantasiku yang terus berharap pada cinta Dino meski aku sendiri yang membuat keputusan berpisah, dua tahun lalu Normanpun menikah dan telah dikaruniai satu anak yang lucu. Aku hanya berucap syukur atas kebahagiaan Norman.
Namun, nampaknya hingga hari inipun perhatian Norman padaku tak pernah pupus. Entah karena memang care dengan keadaanku atau hanya ingin menunjukkan jati diri Dino sebenarnya padaku, Norman memperkenalkan Rini padaku. Rini adalah salah satu putri duta wisata yang wajahnya kerap wirawiri menghiasi media-media lokal dan saat ini tengah meretas karirnya di dunia model nasional. Aku begitu terkejut saat diberitahu Norman bahwa Rini adalah korban sang pejabat flamboyan Dino. Bahkan, belum lama ini, putri cantik itu mengaku baru saja menggugurkan kandungan atas perintah Dino. Aku tak tahu, apa yang diharapkan Norman, apalagi Rini dariku ..Apa aku harus memblowup besar-besaran aib yang sebenarnya aku sendiri masih meragukan kebenaran itu. Setidaknya aku harus waspada, hati-hati agar tidak hanya sekedar dijadikan alat untuk tujuan tertentu ...
Dulu, aku memilih berpisah dan memutuskan hubungan dengan Dino lantaran alasan hati nurani. Kini, apa aku harus mengingkari hati nurani itu demi orang lain ..Kalau soal dendam, sudahlah ..aku memang sakit hati ..apalagi setelah tahu ternyata cinta Dino bukan hanya untukku, tapi juga untuk Rini. Bahkan bisa jadi untuk beberapa perempuan yang lain juga ..Tapi untuk membalas sakit itu dengan memporakporandakan keluarga Dino, membuka aib paling memalukan itu di media ...entahlah ..aku tak akan pernah sanggup ...
**ditulis Mila untuk
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
|