REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Sabtu, 19 Mei 2012 | Welcome : Tamu |
Home Kisah Dia Bukan Anak Suamiku ...
Admin
Ditulis oleh Admin   
Posted : Rabu, 07 September 2011 11:57


Dia Bukan Anak Suamiku ...
sepi_jongjava
Orang Jawa bilang, kacang ora ninggal lanjaran. Apa yang dilakukan anak, tak lepas dari apa yang dilakukan orangtuanya. Serapat apapun aku berusaha menutupi masalaluku yang kelam, ternyata anakku akhirnya tahu, siapa ibunya sebenarnya. Dia kini menghindar dari kehidupanku dan mencoba menapakai jalannya sendiri ..yang membuat aku senantiasa takut dan gundah gulana.

Tragisnya, aku yang kini sakit-sakitan, tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya takut bila keyakinannya bahwa dia adalah anak seorang pejabat tinggi di daerah kami akan membuatnya nekad. Padahal, aku sendiri kurang yakin akan hal itu. Terlalu banyak pria yang menanamkan
benihnya di rahimku. Dan aku tak tahu, yang mana akhirnya menjelma menjadi janin dan dilahirkan ke dunia dalam sosok serupawan anakku itu.

Kisah ini berawal ketika anakku, sebut saja Melati (14 tahun), menemukan sebuah foto dari album usang keluarga. Foto remajaku sedang berpose mesra dengan seorang lelaki berseragam PNS yang kini menjabat salah satu kedudukan penting di daerah kami. Bahkan saat ini,
foto-foto dan poster besarnya banyak terpampang dan tersebar di pinggir jalan. "Loh buk, ini kan pak A (maaf, tidak bisa kusebutkan). Wah keren, ibu dulu gaul sama orang-orang penting ya? Atau jangan-jangan ibu dulu selingkuhannya pak A ya?" celoteh Melati yang terus terang membuat aku jadi kaget, terperajat.

Aku tahu, dia hanya bercanda. tapi sungguh, aku sama sekali tidak menduga bila pertanyaan
itu akhirnya keluar dari mulut anakku. "Waduh, wajahnya persis kayak aku lho buk .."tambahnya, membuat aku semakin gundah.

Memoryku langsung melayang ke belasan tahun lalu, sewaktu pertamakali diperkenalkan Mbak Enno, kakak tingkatku di FE sebuah Universitas Swasta di Jatim. Waktu itu (maaf) statusku memang mahasiswi plus-plus yang 'melayani' beberapa pejabat penting dan tamu luar daerah yang datang ke kota tempat aku kuliah menimba ilmu.

Tidak perlu kuceritakan bagaimana sepak terjangku sebagai seorang mahasiswi plus-plus.Ceritanya sangat klise seperti yang sudah-sudah. Yang jelas, aku dengan kesadaran diri ingin menikmati kehidupan tingkat atas dengan memilih profesi haram ini. Wajahku cantik, bodiku asik, apalagi yang aku fikirkan. Aku sangat enjoy saat bercinta dengan para lelaki berkantong tebal, termasuk diantaranya Pak A yang saat itu juga sudah memiliki anak istri.

Dibandingkan yang lain, Pak A memang sedikit istimewa bagiku. Itu juga yang kadang membuat aku ceroboh, tak memakai 'pengaman' saat menikmati waktu-waktu laknat yang penuh nikmat dengannya. Tapi aku tetap tak yakin bila Melati adalah benih Pak A. Selain itu, aku tahu dirilah. Atas dasar apa aku akan mengklaim Pak A sebagai ayahnya Melati. Lagipula aku tak ingin semua orang akan ikut menikmati dosa dan aib kami. Banyak orang yang harus kujaga perasaannya. Bukan hanya perasaan keluarga Pak A, juga perasaan keluarga besarku, perasaan orang-orang yang berada di lingkungan tempat aku belajar.

Begitulah akhirnya. Setelah ketahuan hamil, aku total menghentikan aktifitasku sebagai mahasiswi plus-plus. Meski tak harus kuceritakan secara detil, ada satu peristiwa yang kemudian membuatku seakan pada titik nadir, dan menyadari segala kekeliruan, dosa yang telah kuperbuat. Hingga aku benar-benar sadar dan memantapkan diri untuk keluar dari profesi kelam itu. Untunglah ada teman kuliahku yang akhirnya mau menjadi bapak buat benih yang sedang aku kandung. Dia tidak tampan, tapi baik, sangat baik malah.

Dia juga yang akhirnya kunikahi, meski tanpa cinta dariku. Dia begitu tulus, telaten, penyabar dan dengan sepenuh hati mau menerima aku apa adanya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Empat tahun berjalan perkawinan kami yang penuh kedamaian, dia dipanggil yang Kuasa pada sebuah peristiwa kecelakaan.

Jadilah aku yang memang sudah drop out sejak menikah, hidup mandiri bersama anakku Melati.Untuk keperluan sehari-hari dan sekolah Melati, aku membuka toko sembako kecil-kecilan dan jualan pulsa di rumah peninggalan suami yang didapatkan dari warisan orangtuanya dulu.Tidak berlebihan, tapi cukuplah untuk menopang kehidupan kami berdua selama bertahun-tahun hingga sekarang Melati bertumbuh menjadi anak ABG yang rupawan.

Sungguh, aku tak menyangka bila tiba-tiba Melati kemudian menemukan foto biang petaka itu. Aku malah sudah lupa kapan dan dimana foto itu dibuat. Bukankah aku paling anti berfoto dengan para 'pelanggan' waktu itu? Apa karena memang aku menganggap Pak A begitu istimewa sehingga gambar mesranya denganku perlu aku simpan? Entahlah.

Yang jelas, aku sempat tergagap dan tak tahu apa yang harus kujelaskan pada Melati. Lalu dia mematut-matut diri di depan cermin, seperti ada yang difikirkannya. Aku juga tak mampu mencegah saat akhirnya dia memasukkan foto itu ke dalam tas sekolahnya. Apa sebenarnya yang tengah dia rencanakan.

Di saat aku seharian gelisah, gundah dengan apa yang akan dilakukan Melati. Tiba-tiba dia datang sebelum waktunya pulang sekolah. "Aku sudah tahu semua cerita tentang ibu. Aku tadi tidak masuk sekolah, aku hanya mencari informasi tentang ibu di masa lalu. Tidak perlu ibu tahu darimana, tapi aku sudah tahu semuanya .. Ibu pelacur ..aku anak pelacur ..aku bukan anaknya Pak J (nama suami sahku) .." katanya sambil membanting tasnya di tanah.

Hatiku sakit ! Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa ..karena realitasnya memang begitu. Aku tahu, peristiwa seperti ini laun pasti akan terjadi. Begitulah Melati. Sejak peritiwa itu, dia sama sekali tak menegurku. Sepertinya dia memang benar-benar sudah tidak 'menganggapku'. Tapi aku masih bersyukur karena dia tetap menjalankan aktifitasnya sehari-hari, berangkat pulang sekolah tepat waktu, makan, bahkan membantu membuka toko atau melayani pembeli. Dia hanya tidak mau bicara denganku, itu saja.

Kalaupun ada yang sangat mengganggu fikiranku adalah Wajahnya yang biasanya berseri-seri ceria, jadi murung. Bahkan sering kulihat kerut merut di keningnya seperti memikirkan sesuatu. Dan 'sesuatu' itu diungkapkannya kemarin, ketika aku tengah terkapar sakit di pembaringan karena demam yang tiba-tiba menyerang. "Bu, aku akan ke Pak A .." katanya mengejutkan aku.

Ya ampun nak .. apa yang kamu lakukan? Namun sepertinya dia tidak memerlukan jawabanku. Dia langsung ngeblas hilang tanpa mempedulikan keadaanku. Aku semakin cemas karena dua hari kemudian dia tidak pulang dan hpnya tak dapat kuhubungi. Aku baru sedikit lega, ketika dia tiba-tiba  menelepon dan mengatakan tidak perlu mengkhawatirkan dia. Ah Tuhan, aku tahu sebenarnya dia masih peduli dan sayang padaku ..hanya saja, di lain sisi dia tidak siap menerima kenyataan ini. Akupun yakin, dia paling hanya nginap di rumah S, teman akrabnya selama ini.

Tuhan, namun semuanya tetap tidak membuat jiwaku tenang. Ragaku yang ringkih ini tak lagi sanggup berlari ke sana kemari untuk mencarinya seperti ketika dia bermain petak umpet saat kecil dulu. Masih saja kepedihan, penyesalan ini menggelayut di hatiku .. benarkah dia akan nekad menemui Pak A .. Apa yang akan terjadi bila dia melakukan itu? Duh Tuhan, cegahlah dia untuk menemui Pak A ..karena itu tidak akan membuat keadaan semakin membaik .....

***diceritakan SA di kota S untuk Kisah.jongjava.com
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Tanpa mengurangi rasa hormat , kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pembaca  yg telah mengirimkan kisahnya kepada This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Tapi sekali lagi kami mohon maaf bila ada beberapa naskah yang terpaksa tidak dapat kami tayangkan karena alasan kepatutan. Mohon maklum.
 
Maafkan Aku Nur ..Aku Mencintainya ..

Ini bukan pembelaan terhadap kaum lelaki ..bukan...
Penantian ‘ABG’ Minarti

Perempuan mana yang berharap akan menjadi korban...
Belenggu Hasrat Sang Mantan

"Ini pelajaran bagi para pasangan yang masih saja...
Pantaskah Aku Disebut Guru

Aku perempuan yang saat ini berusia 34 tahun,...
Dia Memang Kembali, Tapi ...

Aku tak tahu, harus bersedih ataukah justru...
Oh Ustadzku ..Haramkah Ku Mencintaimu??

Kubukan berasal dari keluarga broken home. Ku...
Hadiah 'Aib' di Penghujung Tahun ..

Ini adalah pengalaman buruk yang bisa menjadi...
Terobsesi Cinta Satu Malam

Kedengarannya memang gila. Tapi itulah kenyataan...
Kucintai Suami Musuhku

  Cinta memang aneh, membingungkan, dan sulit...
Haruskah Kupilih Suamiku?

Membaca kisah Jongjava "istriku hilang di telan...