| Haruskah Kupilih Suamiku? |
Membaca kisah Jongjava "istriku hilang di telan fesbuk' membuat aku tergerak untuk menuliskan kisah ini. Pasalnya apa yang tertuang dalam cerita tersebut, hampir sama dengan peristiwa yang aku alami. Bedanya aku ada di pihak sang perempuan yang dalam kisah tersebut disebut sebagai Nita.Aku kini dalam status perkawinan 'rumit' bahkan sangat rumit. Janda bukan perawan juga bukan. Namun yang jelas aku kini terus dirundung kebimbangan, langkah dan perilaku apa yang akan kupilih untuk 'meneruskan' hidupku hari ini dan selanjutnya. Aku panggil saja Irin, telah mengarungi biduk rumahtangga bersama Nano selama lima tahun terakhir. Manisnya madu cinta perkawinan yang kami rasakan ternyata hanya sebentar ..kira-kira hanya pada setahun pertama. Setelah itu, dapat aku ibaratkan bagai kapal di tengah laut tanpa nakhoda. Terombang-ambing tak pasti dalam kungkungan masalah yang tidak ada titik terangnya. Awal mula titik api itu adalah belum hadirnya momongan diantara kami pun kami sudah mencoba berbagai upaya untuk mendapatkannya.Dari cekcok kecil, akhirnya terus menjadi cekcok lain yang terus membesar dan menjadi bara yang setiap saat siap membakar dan meluluhlantakkan pilar-pilar keluarga kami. Menginjak usia perkawinan ke 1,5 tahun, api besar itu tak terbendung lagi ..kami terlibat dalam pertengkaran hebat sehingga apa yang ada dalam hatiku, apa yang kurasakan selama ini aku ungkapkan semuanya. Begitu juga dia, rupanya selama ini pun dia merasa telah banyak 'berkorban' jiwa dan perasaan denganku. Kloplah sudah ...pijar-pijar kekecewaan dan rasa lebih benar itu telah menjadi bahan bakar yg siap menyulut kapanpun juga.Dan topik utamanya, tetap soal anak yang tak kunjung kami dapatkan. Kami saling menyalahkan satu sama lain. Kami sama sekali lupa dengan rentetan waktu yang telah membuktikan ketulusan cinta dengan menerima apa adanya dan bisa memahami keterlambatan momongan ini lantaran diberi kesempatan oleh Tuhan untuk instropeksi diri."Yah, mungkin Tuhan belum memberikan momongan karena kita diminta untuk menguatkan pondasi keimanan dan mengasah kesempurnaan dan keikhlasan lebih dulu," kataku yang diamini oleh Nano. Nyatanya toh kami tak kuat, kami rapuh. Dan terjadilah pertengkaran itu. Namun entah mengapa ..meski pertengkaran hebat telah terjadi, kami tetap berusaha untuk tidak memperlihatkan hal itu kepada keluarga besar kami. Bahkan, sama sekali tidak ada kata atau keinginan untuk berpisah atau bercerai. Karena cintakah? Apakah aku dan Nano masih punya perasaan cinta itu? Atau mungkin kami sama-sama menyadari untuk tidak menyakiti hati keluarga besar kami ..Entahlah. yang jelas, ibuku yang telah mendapuk Nano sebagai menantu kesayangannya, saat ini sedang sakit-sakitan. Mungkin itu faktor utama yang membuat kami masih saja bertahan dengan keadaan yang tidak mengenakkan ini. Bahkan, meski berminggu-minggu sudah kami pisah ranjangpun tak ada yang tahu. Ya ..Nano lebih suka pulang ke rumah setiap kali aku sudah berangkat kerja ke sebuah kafe yang letaknya kira-kira hanya 1 km dari rumah. Untuk menghilangkan rasa sepiku, sehari-hari, terutama pagi hingga menjelang petang aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuka-buka fesbuk atau berkumpul dengan teman2ku yang sesama karyawan sebuah kafe.Itulah diriku .. dalam kondisi seperti ini ..seharusnya aku makin mendekatkan diri kepada-Nya ...namun aku tidak. Aku justru tenggelam dalam aktifitas semu untuk kujadikan pelampiasanku. Tapi apakah semata-mata salahku bila dalam kondisi labil dan limbung begini tak ada yang menjadi imamku untuk membimbingku menjadi manusia yang sedikit mulia. Hingga .. entah sejak kapan aku memulai terlibat dalam kisah membingungkan ini. Di dunia maya yang tiap hari menemani hari-hariku, aku berkenalan dengan some one ..sebut saja Anta. Awalnya tidak ada yang istimewa, apalagi toh perkenalan kami hanya melalui dunia tidak nyata yang kemungkinan untuk bertemu atau berinteraksi secara langsung sangat sulit. Tapi sejak rutin menjalin pertemanan itu, aku merasakan gairah kehidupanku muncul kembali. Aku yang tengah merindukan sosok peneduh dalam kegalauan, tiba-tiba saja merasa menemukan oase yang mengguyur gersang jiwaku. Begitu runtut, begitu indah, begitu mempesona kata demi kata yang dituliskan Anta di inbox, di wall FB-ku atau di chat roomku ..semua harus kuakui membuat aku melayang, merasa 'diwanitakan'.. Meski hanya di dunia maya, kami merasa sudah begitu dekat dan saling mengenal jauh ..Anta yang saat ini memiliki seorang anak laki-laki berusia tiga tahun mengaku bila saat ini kondisi rumahtangganya sedang di ambang batas lantaran sudah tidak ada lagi kecocokan ..Meski problemnya berbeda, namun hal inilah yang seakan-akan justru 'menyatukan' kami. Kami jadi sering tukar pendapat pendapat, sharing, dan curhat. Dan kini, meski aku belum pernah bertemu dengan Anta secara langsung, namun aku benar-benar merasa seperti orang yang tengah kasmaran ...tak kuingkrai bila aku mulai berharap 'sesuatu' ..yakni hati, kebahagiaan dari dia .. Kedengarannya memang aneh .. tapi itulah kenyataannya.Setidaknya itulah yang memberikan aku 'kekuatan' untuk menghadapi Nano, untuk segera memberikan keputusan atas statusku yang menggantung ...meski dengan Antapun aku masih belum berani berharap banyak (apalagi dia juga masih punya istri sah) .. Dan di saat aku ingin mengutarakan keinginanku untuk mengakhiri semuanya ..mendadak sikap Nano berubah. Dia tiba-tiba saja bersimpuh memohon ampun padaku dan ingin tetap mempertahankan rumahtangga yang sudah di ambang titik kehancuran ini. Dia bersimpuh ..menangis meminta maaf ... Aku bingung, tak tahu apa yang harus kuperbuat .. Di sisi lain aku tersentuh, sedangkan di sisi lain aku sudah tidak yakin dengan perasaan cintaku pada Nano .... dikisahkan Irin kepada This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it |