|
Benarlah kata orang Jawa bahwa segala sesuatu itu serba 'sawang sinawang' ..apa yang kelihatan bagi orang lain sangat menyenangkan dan menguntungkan belum tentu juga kenyataannya seperti itu. Begitu juga dengan diriku, sebut saja Rossy ..seorang perempuan, seorang istri yang selama ini terlihat 'sempurna' kehidupannya. Memiliki suami yang tampan, pengusaha, banyak uang, dan memiliki tiga anak manis ..dua perempuan dan satu lelaki, kombinasi yg lengkap dan menjadi idaman setiap orang.
Siapa yang menyangka bila dibalik keharmonisan dan keutuhan yang terpancar di keluarga kami tersimpan 'bom waktu'yang setiap saat siap meledak dan memporak porandakan mahligai yang telah terbangun sekian tahun ini. ya ..kehidupan 'sempurna' itu telah menjebakku, menempatkan aku pada dimensi yang sulit kupahami ..tiba-tiba saja aku menjelma menjadi perempuan tak berdaya yang tak punya satu kuasa.Padahal aku bukanlah tipe perempuan seperti itu ..aku perempuan penuh kharisma, dihormati dan punya otak yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Aku pernah menjadi seorang pemimpin perusahaan jasa yang lumayan ternama.Setidaknya itulah yang bisa kuungkapkan saat ini untuk menutup rasa 'kecilku' yang sebenarnya.
Aku mengenal suamiku, sebut aja Antok sejak SMA ..dia termasuk cowok idola di sekolah. Karena selain tampan, kharismatik, juara, juga berasal dari keluarga berada. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses dan ternama di ibukota. Tak heran bila banyak cewek yang mengejar-ngejar dan tergila-gila padanya. Beruntunglah bila akhirnya akulah yang menjadi pilihan hatinya.
Singkat kata, kami pun berpacaran ..semua manis, bahkan sampai kami menikah dan memiliki tiga buah hati, semuanya masih berjalan normal dan baik-baik saja.Barulah setahun setelah kelahiran anak kami yang ketiga, aku mencium gelagat yang kurang menyenangkan dari suamiku tersayang. Ya cobaan itu datang di saat perusahaan keluarga yang aku kelola berkembang pesat ..keluarga Antok rupanya memang lebih mempercayai aku memegang kendali perusahaan keluarga itu ketimbang Antok.
Inilah yang baru-baru ini baru kusadari ..aku tidak pernah menyangka bila ternyata Antok 'cemburu' dengan posisiku di perusahaan keluarganya. Padahal, dia sendiri juga sudah mendapatkan 'jatah' perusahaan lain yang skalanya juga tak kalah besar dengan yang kukelola.Paling menyebalkan adalah ketika dia selalu mencoba joke denganku dengan memanggilku dengan sebutan bu direktur di rumah. Jujur aku sangat tidak menyukai sebutan itu ...meski dilontarkan dengan nada guyon ..seolah-olah itu menyindir. Bahkan dia juga berulangkali meminta maaf dengan senyum nyengir di wajahnya ..
Mengapa sekarang sosok Antok jadi begitu aneh di hadapanku? Kadang-kadang terasa sangat baik, pengertian ..namun suatu kali tiba-tiba emosinya meledak-ledak dan sangat sensitif. Entahlah ..dulu dia tidak seperti itu. Jawaban itu baru kuketahui beberapa bulan setelahnya, setelah kusadari ada kehadiran orang ketiga, bisa juga keempat dalam bahtera kehidupan kami.
Meski khawatir dan cemburu, aku sendiri juga merasa bersalah, aku jadi bertanya-tanya apa mungkin kesibukanku yang membuatku jadi tidak mengetahui gelagat dari suami. Tapi Perasaan kok tidak sih .. ah entahlah. Namun yang jelas, selain feeling, Kehadiran orang lain dalam kehidupan manis kami itu disampaikan sendiri oleh suamiku. Seakan-akan tidak mau tahu dengan perasaanku, dia mengatakan telah menemukan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hari-harinya dengan kasih sayang,pengertian, dan tidak ambisius. Dia mengatakan aku bagaikan sebuah hiasan kristal yang tak bisa disentuh dan hanya sedap tuk dipandang.Salah perlakuan dikit aja bisa pecah berantakan... begitu dia mengibaratkan aku.
Padahal duh ..sama sekali aku tidak merasa seperti itu. Apa itu hanya alasan yang dicari-cari untuk membenarkan tindakannya 'bermain hati' di belakangku? Meski aku memiliki kedudukan yang lumayan tinggi tapi aku tak pernah sekalipun berfikir untuk merendahkan suami. Apalagi secara struktual di perusahaan dia juga memiliki jabatan yang tak kalah tinggi dibandingkan aku.Bahkan sebisa mungkin pekerjaan seperti memasak ..aku sendiri yang melakukan, demi menyenangkan suami. Aku juga tidak pernah sekalipun bicara keras padanya. Sebaliknya aku selalu berhati-hati setiap kali ingin memulai pembicaraan. Ini semua kulakukan semata-mata untuk menjaga perasaan dia.
Namun sikapku yang hati-hati ini justru membuat situasi jadi serba kaku dan tidak luwes ..semakin lama aku seperti menjadi orang asing di rumahku sendiri. Hingga suatu hari.. entah apa yang ada dalam fikiranku, aku sempat berfikir untuk meletakkan jabatanku di kantor dan memilih menjadi house wife demi menyelamatkan keutuhan keluarga kami. Tekadku sudah bulat dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengungkapkan hal itu pada saat pertemuan keluarga besar kami. Anehnya ..tidak ada satupun yang berusaha mencegahku untuk tidak melakukan keputusan nekad itu ..bahkan seakan semua setuju dan sepakat aku lebih baik mundur dari jabatan itu dan menjadi house wife utuh mendampingi suamiku, si Antok.
yah ..aku harus konsisten dengan pilihanku ..meski sebenarnya sangat berat melepaskan begitu saja karir yang telah kubangun bertahun-tahun, lalu menyerahkan kepada orang lain, meski itu masih terhitung keluarga sendiri (saudara suamiku).Nyatanya aku memang harus melakukan itu. Demi suamiku Antok dan keutuhan rumah tangga kami.
Awalnya kulewati hari-hari sebagai istri rumahan dengan sangat baik, meski kerap kali aku jenuh, kangen ..ingin kembali menjalani aktifitas seperti semula. Terus terang aku merindukan untuk 'bercengkerama' dengan pekerjaan kantor ..aku jenuh sekali dengan rutinitas pekerjaan rumah. Aku butuh lingkunganku seperti yang dulu ..aku butuh 'bahan bakar' yang bisa menghidupkan energi kehidupanku ..namun semua kupendam, sekali lagi demi suamiku.
Dan kulihat, memang ada perubahan di sikap Antok ..dia terlihat lebih 'manis' dari sebelumnya. Selain sering 'menghujani' aku dengan berbagai hadiah mahal ..dia juga terasa lebih 'hot' di ranjang. Satu lagi yang sedikit melegakan, dia juga tidak pernah lagi mengungkit-ungkit kehadiran 'perempuan lain' yang mengisi kekosongan hari-harinya akibat kesibukanku dulu. Hanya saja, ada satu sesi baru lagi yang kini membuatku cemburu ..dia jadi lebih sering mojok 'bercanda' dengan BB dan notebooknya. Ah positif thinking sajalah .. mungkin memang dia sedang mengerjakan sesuatu yang penting yang membuat dia jadi harus berlama-lama di depan benda2 elektronik kesayangannnya itu.
Begitulah ..akibat sikap manisnya itu, aku justru jadi merasa serba salah ..di satu sisi aku suka dengan situasi itu, namun di sisi lain aku merasa 'terpenjara' karena tidak pernah diberi kesempatan bertanya. Kalaupun ada ..apa yang harus kutanyakan??? Bagaimana mungkin aku bertanya sesuatu yang masih menjadi keraguan sendiri dalam hati?? Sedihnya lagi, Antok sepertinya ingin benar-benar 'memutuskan' interaksiku dengan dunia luar .. Dia jelas-jelas melarangku untuk keluar rumah, memakai mobil ,kecuali bersama dia ..dia juga kerap bertanya 'dari siapa' dengan penuh curiga setiap kali aku menerima telepon ..terutama pada malam hari. Meskipun teleponku berdering biasanya masih di bawah pukul 22.00. Dia terus
'memelototi' aktifitasku ..sementara dia sendiri sering pergi entah kemana ..bahkan suatu hari aku sempat melihat dia tersenyum-senyum sendiri sambil menikmati BB-nya ..Tak wajarkah bila aku menaruh curiga?? Bagaimana aku bisa keluar dari situasi pelik ini ..??
**Dituliskan Rossy untuk kisah
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
|
Comments