REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Selasa, 22 Mei 2012 | Welcome : Tamu |
Home Memorabilia Ki Narto Sabdo: Kreasi Baru Ibarat Bakmi
Admin
Ditulis oleh Admin   
Posted : Senin, 05 September 2011 20:38


Ki Narto Sabdo: Kreasi Baru Ibarat Bakmi
kinartosabdo_jongjava3
Yo konco ning nggisik gembiro
Alerap lerap banyune segoro
Angliyak numpak prau layar
Ing dino minggu keh pariwisoto
Galo praune wis nengah
Byak byuk byak banyu binelah
Ora jemu jemu karo mesem ngguyu
Ngilangake roso lungkrah lesu
Adik njawil mas
Jebul wis sore
Witing kalopo katon ngawe awe
Prayogane becik balik wae
Dene sesuk esuk
Tumandang nyambut gawe

Siapa yang tidak kenal lirik lagu 'prau layar'.. Sebuah lagu yang sering dibesut dalam kemasan campursari dan gendhing oleh para penyinta alunan musik Jawa. Dan siapa juga yang tidak kenal dengan nama besar legenda pedalangan tanah Jawa di balik penciptaan lagu berirama ceria itu?

kinartosabdo_jongjava2kinartosabdo_jongjava
Ya, dialah Kinarto Sabdo. Seorang sastrawan, budayawan, seniman panggung dunia pedalangan yang begitu melegenda karna karya-karyanya yang sangat familiar. Prau layar hanyalah satu diantara 319 lagu yang lahir dari tangan dingin Kinarto Sabdo.

Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 25 Agustus 1925 dan wafat pada 7 Oktober 1985 dalam usia 60 tahun, Ki Nartosabdo muncul pertama kali sebagai dalang justru di Jakarta, di Gedung PTIK, 28 April 1958. Dengan lakon Kresna Duta, pertunjukan itu disiarkan pula oleh RRI. ”Saya panik, maklum baru pertama kali,” tutur Ki Narto, beberapa tahun kemudian.

Pada adegan pertama, ia sempat bingung, mencari cempala, alat yang biasa diketukkan dalang pada sisi kotak wayang, untuk mendramatisasi suasana. "Padahal, alat itu sudah tergeletak di pangkuan saya,” tuturnya.

kinartosabdo_jongjava5Waktu itu, ”jabatan resmi” Ki Narto sebenarnya penggendang grup Ngesti Pandowo, yang tengah main di Jakarta. Memang, ia sejak remaja sudah ”memuja” para dalang tersohor, Ki Ngabei Wignyosoetarno, Sala, dan Ki Poedjosoemarto, Klaten. Ia juga tekun menyimak berbagai buku tua. Kepala Studio RRI waktu itu, Sukiman menawari Ki Narto untuk mendalang. Dan jadilah pertunjukan di PTIK itu.

Penampilan pertama itu langsung mengangkat namanya. Berturut- turut ia mendapat kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogya, dan seterusnya. Lahir pula cerita-cerita gubahannya, seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba. Semua itu lebih banyak karena belajar sendiri — tidak seperti pada umumnya dalang, yang lahir karena keturunan dalang pula, atau ”kewahyon” (mendapat wahyu). ”Saya tidak begitu. Saya hanya memilih teknik terbaik dari beberapa dalang terkemuka,” kata Ki Narto.

Dia memang lebih banyak mementaskan cerita-cerita carangan — hasil apresiasi mendalam dari suatu cerita baku, atau gubahan baru yang bersumber dari pakem (cerita induk). Lantas ia mendapat banyak kritik. ”Nartosabdo terlalu menyempal dari pakem,” kata seorang ahli pedalangan. ”Apa salahnya?” kata Ki Narto. ”Kreasi baru itu ibarat bakmi, yang bukan makanan sehari-hari. Suatu saat kita toh akan kembali makan nasi. Atau ibarat bistik. Tuhan menciptakan sapi, pengolahannya terserah kepada kita.” Ki Narto juga terkenal sebagai penggubah gending-gending Jawa. Di bidang ini, kreasinya melebar ke segala arah. ”Dulu tidak ada gending yang berirama rumba, waltz, atau dangdut. Saya mencobanya,” ujarnya.

Dalam konser karawitan di Gedung Mitra Surabaya, 1976, yang mempergelarkan 14 komposisi ciptaannya, Ki Narto sempat menampilkan lagu Begadang (Oma Irama) dalam Pelog Paten Nem. Tidak semua kreasinya bercorak dolanan. Ada juga yang berat, misalnya Sekar Ngenguwung.
Nama asli Ki Nartosabdo sebenarnya adalah Soenarto. Putra seorang perajin sarung keris bernama Partinoyo. Kehidupan masa kecilnya yang serba kekurangan membuat Soenarto putus sekolah dalam pendidikan formalnya, yaitu Standaard School Muhammadiyah atau SD 5 tahun.

Kehidupan ekonomi yang serba sulit membuat Soenarto bekerja membantu pendapatan keluarga melalui bakat seni yang ia miliki. Antara lain ia pernah menjadi seorang pelukis, juga sebagai pemain biola dalam orkes keroncong Sinar Purnama. Bakat seni tersebut semakin berkembang ketika Sunarto dapat melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Pada tahun 1945 Soenarto berkenalan dengan pendiri grup Wayang Orang Ngesti Pandowo, bernama Ki Sastrosabdo. Sejak itu ia mulai mengenal dunia pedalangan di mana Ki Sastrosabdo sebagai gurunya. Bahkan karena jasa-jasanya membuat banyak kreasi baru bagi grup tersebut, Soenarto memperoleh gelar tambahan "Sabdo" di belakang nama aslinya. Gelar itu diterimanya pada tahun 1948, sehingga sejak saat itu namanya berubah menjadi Nartosabdo.
=====================================================
Sumber narasi dan ilustrasi: Wikipedia/http://listantoedy.wordpress.com/lensaindonesia.com/wayang.wordpress.com


 
Sang Raja Tanpa Mahkota

"Sang raja tanpa mahkota", demikian kaum Kompeni Belanda menyebutnya. Dia lihai, cerdas, bersemangat, ditakuti, juga disegani lawan – lawan...
Tragedi Canny Ong

Nama CANNY ONG mungkin tidak familiar di telinga kita. Namun kisah tragis gadis Malaysia ini bisa menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagi siapa...
John F Kennedey dan Konspirasi itu ..

Pembunuhan John Fitzgerald Kennedy (JFK), presiden ke-35 Amerika Serikat, terjadi pada hari Jumat, 22 November 1963 di Dallas, Texas pada pukul 12:30...
Pulitzer dan Kematian Tragis Sang Jurnalis

Kevin Carter, seorang Journalist, awal tahun 1993, berangkat ke Sudan dengan niatan untuk mengambil foto pemberontakan yang terjadi di negara yang...
Ki Narto Sabdo: Kreasi Baru Ibarat Bakmi

Yo konco ning nggisik gembiro Alerap lerap banyune segoro Angliyak numpak prau layar Ing dino minggu keh pariwisoto Galo praune wis nengah Byak byuk...
Dibunuh Lantaran Berjilbab

  Dia hanya perempuan muslim biasa. Selayaknya perempuan muslim lainnya yang mengenakan hijab/jilbab sebagai penutup aurat di kesehariannya. Namun...
Kingkong Lu Lawan

"Kingkong Lu Lawan". Mendengar kalimat itu, kita langsung teringat pada seniman legendaris, H Benyamin Sueb. Siapa tidak kenal dengan babe-nya 'Si...
Perempuan Berkode H21 Itu ...

Sejarah spionase dunia tidak akan pernah melupakan legenda Mata Hari (versi ejaan lain: Matahari), seorang penari erotis blasteran Jawa-Belanda penuh...
Akhir Tragis Sang Inspirator

Marilyn Monroe (1926 - 5 Agustus 1962) yang terlahir dengan nama Norma Jeane Mortenson adalah seorang aktris, penyanyi dan juga model terkenal asal...
Misteri di Balik Kedekatan JFK, Soekarno dan Marilyn Monroe

  Kematian Marilyn Monroe, John F Kennedy (JFK) dan runtuhnya Soekarno dari kekuasaan masih membawa spekulasi hingga kini. Spekulasi yang berkembang...