|
Untuk memperkuat industri sapi potong nasional, kementerian pertanian RI pada 2010 akan mengalokasikan Rp27 miliar untuk program integrasi sawit dan kakao. Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Achmad Mangga Barani, di Jakarta, Rabu, mengatakan, kebijakan tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi perkebunan untuk program swasembada daging sapi pada 2014.
"Perkebunan merupakan tumpuan untuk keberhasilan swasembada ini karena memiliki luasan areal yang tetap mencapai tujuh juta hektare," ujarnya.
Dikatakannya, lokasi pengembangan integrasi sawit dan ternak ini dilakukan di sejumlah daerah yakni Sumatra Selatan, Bengkulu. Jambi, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Riau.
Mangga Barani mengatakan, satu hektare lahan sawit dapat diintegrasikan dengan dua ekor hingga tiga ekor sapi potong dan dalam 2 tahun ini sudah dilakukan proyek percontohan integrasi sawit dan ternak sapi potong.
Program integrasi sawit dengan ternak sapi, tambahnya, sejalan dengan program revitalisasi perkebunan sawit yang menargetkan luasan lahan 1,5 juta hektare pada 2011
Menurut dia, pihaknya telah melaksanakan program integrasi kebun sawit dengan ternak sapi yang dilakukan sejak 2009.
Program integrasi sawit dan ternak awalnya bertujuan untuk mengatasi kesulitan pemanen dalam mengangkut tandan buah segar (TBS) karena topografi wilayah yang berbukit sehingga menyulitkan pemanen untuk mengangkut TBS dari tempat pemanenan ke tempat penampungan sementara.
Dikatakannya, dengan pola integrasi sapi-sawit, kegiatan pengangkutan hasil panen dilakukan dengan memanfaatkan tenaga sapi baik dengan gerobak maupun diangkut di punggung sapi.
"Dengan pemanfaatan tenaga sapi ini, kegiatan pengangkutan menjadi lebih efisien sehingga areal kerja pemanen bisa bertambah dari sebelumnya, 10 hektare menjadi 15 hektare," katanya.
Salah satu program integrasi sawit dan ternak dilakukan oleh PT Tri Bakti Sarimas yang berlokasi di Bukit Payung, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Achmad menjelaskan, perusahaan tersebut memiliki lahan seluas 23.000 hektare dan mengembangkan tiga komoditi perkebunan yaitu kelapa sawit, kakao, dan kelapa.
"Hal yang menarik dari perusahaan ini adalah konsep zero waste (tanpa limbah) yang diterapkan secara konsisten. Prinsip dari konsep ini adalah dikembalikan lagi ke alam," katanya.
Keuntungan dari penerapan integrasi sawit dan ternak, tambahnya, adalah penghematan yang sangat maksimal dari perusahaan, terutama karena biaya untuk pembelian pupuk kimia jauh berkurang akibat penggunaan kompos ini. (klc)
|