| Ubur-ubur raksasa Teror Perairan Jepang |
|
|
|
![]() Kehadiran puluhan ubur-ubur Nomura raksasa di sepanjang pantai timur Jepang telah membuat resah para nelayan setempat. Setelah sekian lama menebar teror, merusak jaring para nelayan, dan menyuntikkan toksin mematikan pada ikan2 yg menjadi tangkapan para nelayan, para ubur-ubur itu juga membalikkan sebuah kapal nelayan berbobot 10 ton, yakni kapal Diasan Shinsho-maru. Menurut sumber berita, insiden itu terjadi ketika tiga nelayan berusaha mengangkut jaring mereka yang berisi puluhan ubur-ubur yang besar ini, yang beratnya sebanyak £ 440 dan dapat tumbuh hingga diamater 6 meter. Semua orang yang berada di kapal itu dilemparkan ke dalam laut, namun segera diselamatkan oleh kapal pukat ikan yang lain. Penjaga Pantai lokal menunjukkan bahwa saat kejadian naas itu, cuaca sedang cerah dan laut sedang tenang. Selama beberapa bulan terakhir, perairan Jepang memang telah penuh dengan ubur-ubur raksasa ini. Ahli biologi kelautan percaya bahwa pembiakan mereka telah dipercepat oleh air dan kondisi cuaca. Faktor lain yang membuat populasi ubur-ubur ini makin meningkat kemungkinan adalah akibat penurunan jumlah predator, yang meliputi kura-kura laut dan jenis ikan tertentu. Para kru di atas kapal pukat memang sengaja memancing ubur-ubur Nomura ini, tapi tidak menyangka bila yang didapatkan jauh lebih banyak daripada yang mereka harapkan. Sedikit orang yang benar-benar tahu tentang ubur-ubur yang termasuk terbesar di dunia ini. Sejak empat tahun lalu, makhluk laut besar ini menyerang perairan Jepang. Mereka melakukan kerusakan besar pada jala dan membuat banyak ikan tidak termakan karena toksisitas sengatan mereka, yang juga melukai para nelayan. ![]() Beberapa tahun tahun terakhir kondisinya jauh lebih buruk. Tahun 2007 lalu, misalnya, meski hampir tidak ada penampakan, namun terdapat lebih dari 15.000 laporan kerusakan peralatan penangkapan ikan yang disebabkan oleh makhluk-makhluk tersebut, mengambang di gerombolan besar di Laut Jepang di Tsushima. Ubur-ubur Nomura sangat sulit disingkirkan di saat mereka berkembangbiak menghasilkan jutaan keturunan di dalam air. Mereka digambarkan sebagai "ubur-ubur topan." Keberadaan mereka menempatkan industri perikanan Jepang pada risiko serius. Meski teriakan perang"Tidak ada lagi, Nomura" telah dicanangkan, tapi perang itu berkecamuk diantara kekuatan alam dan industrialisasi.(suci/wac) |
Malang merupakan daerah peradaban tua yang tergolong pertama kali muncul dalam sejarah Indonesia...
Tingkah polah, sikap dan Kinerja sebagian besar anggota wakil rakyat alias Dewan Perwakilan...
Hanya dalam durasi pelatihan 4 jam, puluhan relawan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat...
Dualisme kepengurusan di tubuh PT Arema Indonesia berakhir sudah.Komite eksekutif (Exco) PSSI...
Soal kuliner ekstrim di jagad ini, sepertinya tidak ada yang bisa mengalahkan orang China. Bukan...
Tuai Kecaman, di Youtube Menghilang Peristiwa mengenaskan yang menimpa seorang bocah perempuan...
Kematian mendadak sang suami, Shawn, bukan hanya membuat Casie (26), warga Fayetteville, Tennessee...
Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri yang datang sebentar lagi membawa hikmah tersendiri bagi para...
Ingin mendapatkan penghasilan tambahan yang mudah dan menyenangkan dari internet? Caranya...
Banyak orang penasaran, bagaimana bisa internet menyediakan uang dan peluang untuk menambah income...
Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, 19 Februari 1962. Aktif menulis puisi sejak tahun 1976,...
Halimi Zuhdy lahir di kota Sumenep Madura Jawa Timur. Pernah belajar di Miftahul Ulum (sekolah...
S Che Hidayat atau yang bernama asli Sudirta Hidayat, lahir di Bogor 15 February 1973. Sedangkan...
Comments