REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Sabtu, 11 Februari 2012 | Welcome : Tamu |
Home Story Nasional 40 tahun Awal Perubahan Besar di Indonesia
Admin
Ditulis oleh Admin   
Posted : Kamis, 01 Oktober 2009 07:01


40 tahun Awal Perubahan Besar di Indonesia PDF Print E-mail

pancasilaApa yang disebut "kudeta-gagal" pada 30 September, tepatnya dini hari 1 Oktober 1965, belakangan berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Perburuan, penangkapan dan pembantaian ratusan ribu warga menanam luka bangsa. 'Tahun 65' itu membekas, hingga kini.
Koresponden Aboeprijadi Santoso dari Wereldoemroep radio menemui dua korban dari dua generasi: Irina, putri seorang petinggi Partai Komunis Indonesia, PKI, dan Dahlan, mantan anggota Pemuda Rakyat yang meringkuk 13 tahun dan kerja paksa di Pulau Buru.
Pak Dahlan, kini 72 tahun, ditangkap tanggal 5 Oktober 65.


Seram


"Dibawa ke Koramil terus dibawa ke Kodim. Dari Kodim dikirim ke Guntur. Lalu dari Guntur langsung masuk Cipinang. Lalu dioper ke Salemba. Setelahnya dilempar ke Tangerang. Di Tangerang lama, lalu pindah lagi ke Salemba. Kalau dianiaya ya semua saya rasa cukup mengagetkan terutama di Koramil dan Kodim. Dan terus dikirim ke Nusakambangan, seram. Lalu diberangkatkan ke pulau Buru."

Setelah di Buru, ia dikirim ke pedalaman yang berjarak tiga kilometer. Dahlan berjalan melalui hutan. Ironisnya, hutan itu belum pernah diinjak manusia. Di tempat itu sudah ada ada barak dikelilingi pagar kawat ditambah dengan pos gardu yang tinggi.

Mereka harus melakukan apel pagi yang kadang dilakukan pada sore atau malam harinya. Di tempat itu pun para tahanan diharuskan menanam padi.

Setelah dibebaskan, Dahlan masih diawasi sampai sekitar satu tahun. Dahlan yang tidak diadili namun mendekam di penjara selama 13 tahun mengatakan ia terpaksa harus mulai dari nol lagi bahkan keluarga sendiri juga sudah diambil orang lain. Dahlan merasa baru benar-benar bebas setelah lepas dari panggilan dari Kodim, dari Koramil.

Sekarang ikuti keterangan Irina, putri seorang petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI):

Ada yang mati lagi


"Saya tidak tahu persisnya apa yang terjadi pada waktu itu karena saya masih sangat kecil, sekitar tiga setengah tahun. Tapi seingat saya kami berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada akhirnya tahun 66 kami semua dibawa ke Kodim. Nah ketika kami bermain-main itulah sering kali saya mendengar bisik-bisik dari orang dewasa itu selalu saja ada yang mati. Ada yang mati lagi...ada yang mati lagi...begitu."

Waktu itu ia semua orang dewasa selalu berbisik-bisik. Sejak itu Irina menjadi pendiam, ada perasaan takut. Beberapa bulan kemudian keluarganya keluar dari Kodim lalu ke Jawa Tengah. Baru enam bulan duduk di bangku SD, ibunya ditangkap lagi tahun 1969. Ini semua akibat kegiatan politik ayahnya.

Ketika sudah besar Irina tahu siapa ayahnya. Ia merasa menjadi warga nomer dua. Sangat menyakitkan. Hal itu mempengaruhi perkembangannya. Ia marah sekaligus sedih dan ditambah bingung.

Pada tahun 90an Irina membaca artikel yang dimuat di Suara Pembaruan berjudul di manakah Nyoto berada? Disebut-sebut nama Ali Said.

Menyesal

Saat itu sempat terlintas di benaknya untuk menyurati Ali Said. Ia ingin sekali menanyakan apa yang terjadi waktu itu, di mananya, siapa yang harus bertanggungjawab terhadap hilangnya ayahnya. Ia sudah menulis surat tersebut dengan panjang lebar tapi ia berpikir ulang.

Pertimbangannya adalah keluarga. Karena waktu itu Soeharto masih sangat berkuasa dan akhirnya ia mengurungkan niat itu. Sampai kemudian Ali Said meninggal, Irina menyesal karena surat itu tidak sempat terkirim.
(rnw)

 
Switzerland of Indonesia

Malang merupakan daerah peradaban tua yang tergolong pertama kali muncul dalam sejarah Indonesia...
Hebatnya Anggota Dewan, Teman Bobo', dan Derita 5 tahun

  Tingkah polah, sikap dan Kinerja sebagian besar anggota wakil rakyat alias Dewan Perwakilan...
Hanya 4 Jam Pelatihan, Mampu Terbitkan Majalah

Hanya dalam durasi pelatihan 4 jam, puluhan relawan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat...
PSSI Menangkan Arema Indonesia Kubu Muhammad Nur

Dualisme kepengurusan di tubuh PT Arema Indonesia berakhir sudah.Komite eksekutif (Exco) PSSI...
Kucing Bakar Segar:Menu favorit Warga China

Soal kuliner ekstrim di jagad ini, sepertinya tidak ada yang bisa mengalahkan orang China. Bukan...
Ini Dia Video 'Tragedi Yue Yue' Yang Hebohkan Cina

Tuai Kecaman, di Youtube Menghilang Peristiwa mengenaskan yang menimpa seorang bocah perempuan...
Ingin Tenang, Nyemil Abu Jenasah Suami

Kematian mendadak sang suami, Shawn, bukan hanya membuat Casie (26), warga Fayetteville, Tennessee...
Order Melimpah, Tidak Layani H-7 Lebaran

Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri yang datang sebentar lagi membawa hikmah tersendiri bagi para...
Alternatif Penghasilan Mudah dan Menyenangkan

Ingin mendapatkan penghasilan tambahan yang mudah dan menyenangkan dari internet? Caranya...
Alternatif Logis 'Mencari Uang' di Internet

Banyak orang penasaran, bagaimana bisa internet menyediakan uang dan peluang untuk menambah income...
Syair " Tulang Belakang" Soni Farid Maulana

Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, 19 Februari 1962. Aktif menulis puisi sejak tahun 1976,...
Tuhan, Tak Ada Kata 'Cinta' Untuk-Mu

Halimi Zuhdy lahir di kota Sumenep Madura Jawa Timur. Pernah belajar di Miftahul Ulum (sekolah...
Sehalaman Surat Rasa S CheH

S Che Hidayat atau yang bernama asli Sudirta Hidayat, lahir di Bogor 15 February 1973. Sedangkan...