|
Apa yang disebut "kudeta-gagal" pada 30 September, tepatnya dini hari 1 Oktober 1965, belakangan berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Perburuan, penangkapan dan pembantaian ratusan ribu warga menanam luka bangsa. 'Tahun 65' itu membekas, hingga kini. Koresponden Aboeprijadi Santoso dari Wereldoemroep radio menemui dua korban dari dua generasi: Irina, putri seorang petinggi Partai Komunis Indonesia, PKI, dan Dahlan, mantan anggota Pemuda Rakyat yang meringkuk 13 tahun dan kerja paksa di Pulau Buru. Pak Dahlan, kini 72 tahun, ditangkap tanggal 5 Oktober 65.
Seram
"Dibawa ke Koramil terus dibawa ke Kodim. Dari Kodim dikirim ke Guntur. Lalu dari Guntur langsung masuk Cipinang. Lalu dioper ke Salemba. Setelahnya dilempar ke Tangerang. Di Tangerang lama, lalu pindah lagi ke Salemba. Kalau dianiaya ya semua saya rasa cukup mengagetkan terutama di Koramil dan Kodim. Dan terus dikirim ke Nusakambangan, seram. Lalu diberangkatkan ke pulau Buru."
Setelah di Buru, ia dikirim ke pedalaman yang berjarak tiga kilometer. Dahlan berjalan melalui hutan. Ironisnya, hutan itu belum pernah diinjak manusia. Di tempat itu sudah ada ada barak dikelilingi pagar kawat ditambah dengan pos gardu yang tinggi.
Mereka harus melakukan apel pagi yang kadang dilakukan pada sore atau malam harinya. Di tempat itu pun para tahanan diharuskan menanam padi.
Setelah dibebaskan, Dahlan masih diawasi sampai sekitar satu tahun. Dahlan yang tidak diadili namun mendekam di penjara selama 13 tahun mengatakan ia terpaksa harus mulai dari nol lagi bahkan keluarga sendiri juga sudah diambil orang lain. Dahlan merasa baru benar-benar bebas setelah lepas dari panggilan dari Kodim, dari Koramil.
Sekarang ikuti keterangan Irina, putri seorang petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI):
Ada yang mati lagi
"Saya tidak tahu persisnya apa yang terjadi pada waktu itu karena saya masih sangat kecil, sekitar tiga setengah tahun. Tapi seingat saya kami berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada akhirnya tahun 66 kami semua dibawa ke Kodim. Nah ketika kami bermain-main itulah sering kali saya mendengar bisik-bisik dari orang dewasa itu selalu saja ada yang mati. Ada yang mati lagi...ada yang mati lagi...begitu."
Waktu itu ia semua orang dewasa selalu berbisik-bisik. Sejak itu Irina menjadi pendiam, ada perasaan takut. Beberapa bulan kemudian keluarganya keluar dari Kodim lalu ke Jawa Tengah. Baru enam bulan duduk di bangku SD, ibunya ditangkap lagi tahun 1969. Ini semua akibat kegiatan politik ayahnya.
Ketika sudah besar Irina tahu siapa ayahnya. Ia merasa menjadi warga nomer dua. Sangat menyakitkan. Hal itu mempengaruhi perkembangannya. Ia marah sekaligus sedih dan ditambah bingung.
Pada tahun 90an Irina membaca artikel yang dimuat di Suara Pembaruan berjudul di manakah Nyoto berada? Disebut-sebut nama Ali Said.
Menyesal Saat itu sempat terlintas di benaknya untuk menyurati Ali Said. Ia ingin sekali menanyakan apa yang terjadi waktu itu, di mananya, siapa yang harus bertanggungjawab terhadap hilangnya ayahnya. Ia sudah menulis surat tersebut dengan panjang lebar tapi ia berpikir ulang.
Pertimbangannya adalah keluarga. Karena waktu itu Soeharto masih sangat berkuasa dan akhirnya ia mengurungkan niat itu. Sampai kemudian Ali Said meninggal, Irina menyesal karena surat itu tidak sempat terkirim. (rnw)
|