|
Kenyataan hingga kini Indonesia masih belum memiliki mobil nasional memang benar adanya. Namun demikian ada secercah harapan bila warga Indonesia masih memiliki semangat untuk mewujudkan impian menjadi produsen otomotif. Karena tidak mempu membendung gempuran produsen otomotif dunia yang dimanja pemerintah itu beberapa orang menempuh altenatif lain untuk mewujudkan Indonesia sebagai salah satu produsen otomotif.
Beberapa blogger telah mewujudkan hal itu. Sejak tahun 2005 dengan sokongan LIPI mereka mendirikan industri mobil listrik Marlip Indo Mandiri di Cimahi, Kabupaten Bandung. Outputnya berupa mobil listrik kompak bermerk Marlip.
Karena didirikan dan dikembangkan oleh para blogger, situs reminya juga berupa blog yakni www.marlipev.blogspot.com. Berdasarkan situs resmi ini mobil listrik yang diproduksi mayoritas masih berupa utility. Diantaranya mobil untuk sarana angkutan lapangan golf, rumah sakit (kendaraan angkut pasien), utility pabrik, alat angkut barang di bandara dan hotel.
Marlip juga telah merancang dan memproduki mobil listrik penumpang, Marlip Commuter Smart Car dan Marlip City Car. Dua kendaraan ini ditawarkan di rentang harga Rp 60-80 juta per unitnya dan mampu mengangkut penumpang hingga 4 orang dewasa. Sayangnya dua mobil kota ini belum banyak menyentuh pasar nasional. Berdasarkan data teknis kedua mobil listrik ini mampu menempuh perjalanan hingga 120 km.
Perusahan Marlip Indo Mandiri didirikan dan bertumbuh dari skala home industri. Pada awal berdiri tahun 2005 kapasitas produksinya 30 unit. Kini 50 unit per bulan. Omzet penjualan rata-rata 1 sampai 1.5 Milyar rupiah perbulan.
Marlip merupakan salah satu contoh dari semangat anak bangsa untuk mewujudkan industri otomotif nasional. Yang menjadi pertanyaan, apakah bangsa Indonesia mau mengakui dan memanfaatkan hasil karya otomotif bangsa sendiri, dengan kelebihan dan kekurangannya?
Sudah saatnya di peringatan 63 tahun Indonesia Merdeka ini kita mencuci isi otak yang selama selama rezim Soeharto berkuasa selalu dijejali produk Amerika Serikat, Jepang dan Eropa. Dan, produksi anak bangsa sendiri dianggap rendah derajadnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai diri sendiri dan bangsa lain.
d rusdiono
Artikel terkait
1. Indonesia, Jadi Anak Manis Saja Ya...
2. Besar di Bawah Proteksi
3. Myanmar dan Srilangka Tak Mau Kalah
4. Untung Masih Ada Marlip
|