REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Sabtu, 11 Februari 2012 | Welcome : Tamu |
Home Wisata Plesir Dari Pisang Ponti Menuju Istana
Admin
Ditulis oleh Admin   
Posted : Kamis, 24 September 2009 07:32


Dari Pisang Ponti Menuju Istana PDF Print E-mail

 

Bersampan di Sungai KapuasKekhasan kuliner pisang ponti bisa jadi telah dinikmati banyak orang di berbagai kota di Indonesia.

Namun, tidak banyak yang tahu bila kekayaan Kota Pontianak ternyata bukan hanya pisang Ponti. Ada beragam kekayaan alam dan budaya yang menjadi 'emas merah' terpendam bagi kota di propinsi Kalimantan Barat itu.

 

 

| Gallery|

 

 

 

 

Sebut saja istana keraton Kadriyah atau masjid Jami' yang menyuguhkan wisata budaya dan sejarah dengan kemasan pemandangan alam yang sangat eksotik.Pun juga bentangan luas sungai Kapuas beserta pernak-pernik aktifitas di atasnya yang mencerminkan sisi lain kehidupan warga setempat.Selain keaslian kebudayaan dan keasrian alamnya, di Pontianak juga bisa ditemui penangkaran ikan Arwana Hijau yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Berikut adalah beberapa hasil bidikan perjalanan wisata ke Bumi Khatulistiwa itu:

Keraton Kadriyah.


fotoponti4Istana kerajaan Pontianak ini terletak di Kampung Dalam Bugis, Pontianak Timur. Di dalam bangunan dapat ditemui peninggalan-peninggalan kerajaan seperti kursi singgasana, pakaian, cermin pecah seribu, keris, meja giok, meriam dan sebagainya. Keraton Pontianak berukuran 30 x 50 meter, keraton terbesar di Kalimantan Barat. Terbuat dari kayu belian dan dibangun oleh  pendiri kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman  pada 1771. Bangunan tua yang cukup megah ini dilapisi cat kuning yang melambangkan kebesaran kerajaan Melayu. Berhadapan dengan bangunan keraton terdapat masjid Jami yang dibangun hampir bersamaan.


Tugu Khatuliswa

Tugu Khatulistiwa terletak di sisi jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Setiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23 September setiap tahun diperingati hari kulminasi matahari di tempat ini, yakni matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa sehingga bayangan benda di tempat ini hilang.

Di kompleks Tugu Khatulistiwa sering pula diadakan agenda wisata khusus, seperti pertunjukan kesenian, pameran dan sebagainya.

Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzihter Wiese yang dikutip dari Bijdragentot de geographie dari Chep Van den topographieschen dient in Nederlandsch Indie: Den 31 Sten Maart 1928, telah datang di Pontianak suatu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di Pontianak.

Konstruksi awal Tugu Khatulistiwa yang pertama dibangun tahun 1928, hanya berbentuk tonggak dengan tanda panah. Tahun 1930 disempurnakan berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Pada tahun 1990 kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli. Tugu ini diresmikan pada tanggal 21 September 1991.

Bangunan tugu terdiri dari empat buah tonggak belian, masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.Diameter lingkaran yang bertulisan EVENAAR 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.

Pesta Gawai

fotoponti1Selain peninggalan bersejarah dan monumen, masyarakat setempat juga masih memegang teguh adat budaya. Setiap tahun, bertempat di rumah adat suku Dayak di Jl. Sutoyo, Pontianak Selatan diadakan Pesta Gawai dalam kemasan Festival Gawai Dayak.  Tempat ini juga biasa dipergunakan sebagai tempat pertunjukan budaya, penyelenggaraan seminar budaya dan sebagainya. Pesta Gawai ini digelar sebagai ungkapan rasa syukuratas panen tahunan masyarakat dayak.



Gugusan Sungai


Gugusan sungai yang membentang hampir di setiap jengkal Kota Pontianak, semakin menambah daya tarik kota ini. Misalkan Muara Sungai Kakap yang terletak di Desa Sungai Kakap. Untuk mencapai tempat ini, hanya diperlukan sekitar 15 menit dari pusat kota Pontianak. Daerah muara Sungai Kakap dikembangkan sebagai daerah rekreasi dengan wisata pemancingan, restoran hidangan laut dan agrowisata kebun buah.

Anda tertarik? Banyak lagi referensi lokasi melancong yang bisa Anda dapatkan di kota seribu pesona ini, diantaranya Museum Negeri Pontianak yang terletak di Jalan Ahmad Yani Pontianak. Di sini tersimpan berbagai koleksi bernilai budaya tinggi yang berkaitan erat dengan sejarah Kalimantan Barat, seperti aneka kerajinan patung, tempayan kuno, bentuk-bentuk bangunan tradisional dan sebagainya.

Aternatif lain, Kebun Binatang Pontianak yang terletak di Jalan Adisucipto. Kebun binatang ini, saat ini memiliki lebih dari 50 koleksi satwa, antara lain burung hantu, elang laut, pecuk ular, bangau, kasuari, tekukur dan kakatua. Selain itu terdapat pula orangutan, berbagai jenis primata, musang, landak, beruang, buaya dan lain-lain.

Satwa-satwa tersebut berasal dari sumbangan masyarakat dan penyitaan terhadap satwa yang dipelihara masyarakat tanpa izin pemerintah. Selain itu juga terdapat sumbangan dan penitipan satwa dari Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) yang diperoleh dari habitat asalnya.

Kebun Binatang Pontianak berdiri sejak tahun 1976, diprakarsai oleh Kepala Daerah Tingkat I KalBar. Kebun binatang ini didirikan dengan latar belakang bahwa pada saat itu marak dilakukan penebangan hutan oleh para pengusaha yang menyebabkan terganggunya habitat satwa hutan. Agar satwa-satwa tersebut tidak punah, dilakukanlah pemindahan satwa tersebut ke tempat yang lebih aman dan sesuai dengan habitat aslinya.

Upaya ini juga didorong oleh kegiatan seorang pengusaha kayu asal Italia bernama Pausto Oricciu yang memelihara berbagai jenis satwa liar di kediamannya di Jalan Syuhada Pontianak. Satwa-satwa tersebut dipelihara tanpa izin. Oleh karena itu, Pemda mengambil langkah-langkah untuk mengambil alih pemeliharaan satwa-satwa tersebut dan menampungnya di sebuah lokasi yang namanya Taman Hiburan Rahadi Usman. Taman inilah yang kemudian diubah fungsi menjadi Kebun Binatang Pontianak.

Selain kebun binatang, ada juga Kompleks Pemakaman Keluarga Kerajaan Pontianak yang terletak di Batu Layang, Pontianak Utara. Uniknya di sisi sungai Kapuas terdapat bebatuan besar yang mungkin tidak dapat ditemui di sisi hilir Kapuas lainnya.

Sementara itu, Taman Alun Kapuas terletak di sisi Jalan Rahadi Osman, Pontianak Barat, hingga tepian sungai Kapuas. Di sini tersedia fasilitas kantin, anjungan pandang/panggung di atas air, perahu wisata dan aneka permainan anak. Pada hari-hari tertentu diadakan agenda wisata tertentu, seperti festival layang-layang, pameran, panggung hiburan dan pasar jajanan.

 

*Foto-foto by: Ade Joko Untoro

 
'Finding Nemo' di Pulau Kabung

Cuaca sangat cerah ketika perahu kami melintasi laut Cina Selatan dan merapat di pulau kecil itu. Sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari Kota...
Pantai Parangtritis Yogyakarta

Pantai Parangtritis adalah salah satu pantai yang mesti dikunjungi, bukan cuma karena merupakan pantai yang paling populer di Yogyakarta, tetapi ...
Goes to Sumberbendo Festival 2008

Sebuah ajang eksplorasi budaya tradisional bertajuk Sumberbendo Festival 2008, segera digelar masyarakat kampung Sumberbendo, Desa Kucur, Kecamatan...
Rinjani Yang Bikin Iri Hati

Anda menyukai tantangan dalam berwisata? Tidak ada salahnya untuk mencoba plesir  ke Gunung Rinjani. Untuk menemui  esotisme pemandangan Rinjani ...
Wingko Apel Malang, Sensasi Baru Jajanan Tradisional

Wingko, jajanan tradisional yang selama ini lebih banyak dikenal orang sebagai makanan khas kota Babat Lamongan dan Semarang, kini hadir juga di Kota...
Imlek, Tradisi Mengusir Nian

Tahun Baru Imlek 2559 tahun ini tiba di tanggal 7 Februari 2008. Hari raya ini merupakan hari pertama dalam bulan pertama dari sistem kalender warga...
Bromo, Ku Kan Kembali Lagi

Tak terasa Toyota Kijang yang saya kendarai telah memasuki Sukapura setelah sekitar satu setengah jam menempuh perjalanan dari kota Malang. Jarum jam...
Festival Indonesia 2009 Melbourne Australia

  Festival Indonesia, setiap tahunnya selalu menjadi magnet  terutama bagi masyarakat Indonesia di Melbourne, Indonesianis, friends of Indonesia,...
Indonesia Punya Green Canyon

Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Green Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata ...
Dari Pisang Ponti Menuju Istana

  Kekhasan kuliner pisang ponti bisa jadi telah dinikmati banyak orang di berbagai kota di Indonesia. Namun, tidak banyak yang tahu bila kekayaan...