REGISTER

*
*
*
*
*
Fields marked with an asterisk (*) are required.
Jumat, 10 Februari 2012 | Welcome : Tamu |
Home Wisata Plesir Bromo, Ku Kan Kembali Lagi
Foto
Ditulis oleh   
Posted : Rabu, 30 September 2009 22:12


Bromo, Ku Kan Kembali Lagi PDF Print E-mail

Tak terasa Toyota Kijang yang saya kendarai telah memasuki Sukapura setelah sekitar satu setengah jam menempuh perjalanan dari kota Malang. Jarum jam menunjukkan pukul 03.10 sore saat saya melirik arloji. Udara sejuk langsung menyapa kulit ari tubuhku ketika kuturunkan kaca jendela mobil. Segar ... rasanya. Ya... aku kembali menghirup udara pegunungan Tengger.

Bromo1Masih segar dalam ingatan, empat lalu aku terakhir menghirupnya. Kini aku kembali lagi ke Tengger melalui Tongas dan Sukapura untuk kesekian kalinya. Sebelumnya lebih banyak melalui Wonokitri dan Jemplang, terus menyeberang lautan pasir.


Saat memasuki Wonokerto dan Ngadisari banyak pemandangan berbeda yang aku saksikan. Jalan telah mulus beraspal hotmix, rumah-rumah penduduk juga banyak yang berubah. Rumah-rumah adat khas Tengger yang 20 tahun lalu masih menghiasi tepian jalan desa kini sulit aku temukan. Rumah-rumah wong Tengger sekarang tak jauh berbeda dengan
rumah-rumah warga di luar Tengger. Berdinding beton mengikuti gaya arsitektur yang sedang tren.

Sudah makmurkah wong Bromo sekarang? Atau rumah adat sudah dianggap ketinggalan jaman. Pertanyaan-pertanyaan
seputar perubahan wong Bromo yang aku lihat sesaat itu langsung menjejali benak saya yang terus merayap menuju
Cemorolawang.

Saya masih ingat ketika berkunjung ke Bromo melalui Ngadisari 20 tahun silam. Begitu memasuki gerbang desa, atmosfir yang aku rasakan juga berbeda. Terasa betul auranya bila kita memasuki komunitas suku yang berbeda. Rumah-rumah adat khas Tengger berjajar rapi berundak-undak mengikuti topografi lahan. Sebuah pemandangan yang mempesona.
Senyuman bersahabat wong Tengger dengan atribut khasnya sarung melingkar di tubuh untuk menahan hawa dingin menyambut kehadiran wisatawan yang berkunjung dengan ramah.

Sekarang, pemandangan itu tidak aku temukan ketika aku memasuki Ngadisari. Jaket telah menggantikan sarung untuk menghangatkan badan wong Tengger.

Senyuman khas wong Tengger dan sapaan tanda persahabatan juga telah berganti menjadi tawaran bisnis. “Pak mau
menginap ya...ini saya ada vila bagus, murah, ada air hangatnya. Kalau besok pagi ke Pananjakan pesan Jip sekarang Pak, pakai Jip saya ya..,” sapaan pertama yang aku terima saat berhenti sejenak di gerbang Ngadisari. Oh...

Sekitar 45 menit aku sudah sampai di bibir Kaldera Tengger di Cemorolawang. Panorama lautan pasir dengan Gunung Bromo dan Batok menyegarkan pikiran saya. Penat pun langsung lenyap. Keindahan panorama Kaldera Tengger memang tiada duanya. Saya pun mendekat ke pagar pembatas agar lebih leluasa menikmati keindahan Bromo dan Batok di sore hari.


bromo-3Dengan halus aku pun menampik tawaran menginap, naik kuda atau certer jip ke Pananjakan yang datang bertubi-tubi karena aku masih ingin berlama-lama menikmati Bromo dari bibir kaldera.

Aku tersentak dan lamunanku buyar ketika bocah perempuan menjawil (menyentuh agar diperhatikan) tangan saya sambil menawarkan edelwis, bunga khas Tengger.
Dengan wajah memelas ia berupaya menyakinkan saya untuk membelinya. “Pak, beli dong Pak, uangnya untuk sekolah,
Pak,” begitu rengeknya. Karena tak tega, saya pun membelinya tanpa tahu untuk apa selanjutnya.

Bunga edelwis yang aku genggam di tangan mengantar lamunanku kembali ke masa silam. Saat-saat indah berlibur ke Bromo. Bocah kecil dengan edelwisnya itu juga menggugah memori yang telah terpendam lebih dari 17 tahun silam.

Di Cemorolawang, 20 tahun silam aku membeli dua ikat edelwis, juga dari seorang bocah perempuan. Satu ikat untuk teman perempuanku dan satu ikat untuk diriku. Hari-hari berikutnya, bunga edelwis itu menjadi saksi betapa indahnya dunia saat hati berbunga-bunga dan sumpeknya dunia saat hati dirundung duka.

Tiga tahun kemudian, aku datang lagi ke Bromo untuk mengembalikan eldewis itu ke alamnya.Ya ... aku pulangkan ia ke kaki Gunung Batok. Biarlah semua kenangan indah dan suram yang aku rasakan bersama edelwis itu terkubur di lautan pasir Kaldera Tengger. Tempat semua cerita mengawalinya. Ah.. sudahlah ... yang lalu biarlah berlalu..
.


........................................................



bromo4Keindahan Kaldera Tengger yang merupakan kawasan utama Wisata Gunung Bromo terletak di Provinsi Jawa Timur. Tepatnya berada di wilayah administrasi pemerintahan empat daerah kabupaten, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Kawasan wisata ini berada dalam satu wilayah Taman Nasional Bromo-Semeru-Tengger. Secara administratif pengelolaan dan penguasaan di bawah naungan instansi Departemen K ehut anan, B alai Besar Taman Nasional Bromo-Semeru-Tengger.

Kaldera Tengger yang menjadi inti pariwisata kawasan ini juga berada dalam wilayah administratif pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Sedangkan Gunung Pananjakan yang merupakan view point menyaksikan pesona alam Kaldera Tengger (Lautan Pasir, Gunung Bromo dan Gunung Batok) dan matahari terbit (sunrise) masuk dalam peta wilayah Kabupaten Pasuruan.

Dalam Kaldera Tengger yang memiliki diameter 5 km ini berdiri Gunung Bromo dan Gunung Batok. Bromo merupakan salah satu gunung berapi aktif di Pulau Jawa. Kepunden kawah Bromo masih aktif mengeluarkan asap vulkanik beraroma belerang.

 

Sementara Gunung Batok merupakan kawasan yang menjadi habitat utama bunga edelwis, salah satu icon wisata Kaldera Tengger. Suhu udara rata-rata berkisar antara 5°C - 22°C. Suhu terendah terjadi pada dini hari di puncak musim kemarau yang mencapai 3°C . Bahkan di beberapa tempat sering bersuhu di bawah O°C (minus).

Sunrise dan Berkuda
bromo-2Menyaksikan matahari terbit di puncak Pananjaan   merupakan daya tarik utama berwisata ke Bromo. Selain menjajal pengalaman naik kuda menuruni tanjakan dan melawati hamparan lautan pasir.

Ada tiga jalur utama untuk menuju kawasan wisata ini. Pertama melalui Desa Ngadisari Kecamatan  Sukapura Kebupaten Probolinggo. Kedua melalui Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Dan jalur ketiga melalui Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Ketiga jalur bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat.

Hanya saja untuk jalur yang melalui Ngadas lebih baik mempergunakan kendaraan offroad. Selepas  Jemplang  harus menyusuri lautan pasir  sebelum sampai di kaki gunung Bromo.

 

Bagi Anda yang  mengunjungi Gunung Bromo memanfaatkan angkutan umum lebih baik mengambil jalur pertama. Dari Terminal Probolinggo bisa langsung naik angkutan menuju Terminal Ngadisari.

 

Bermalam di Ngadisari dan paginya diteruskan naik angkutan  khusus kendaraan off road  menuju Cemorolawang-Lautan Pasir-Pananjakan.  Cukup banyak  warga Ngadisari yang membuka usaha jasa angkutan khusus ini.


Dari kawasan Cemorolawang ini pula kita bisa menyewa kuda untuk berjalan-jalan di lautan pasir dan mengantar sampai anak tangga menuju kawah Bromo. Berapa tarifnya? Tergantung kepandaian kita menawar.


Jasa akomodasi juga tersedia cukup banyak  baik itu yang homestay atau hotel. Tempat yang paling indah untuk bermalam adalah  Cemorolawang. Sidikitnya ada tiga hotel yang langsung menghadap dan berbatasan langsung dengan bibir Kaldera Bromo. Dari halaman hotel  kita langsung disuguhi indahnya pemandangan lautan pasir  dengan  lekak-lekuk keindahan Gunung Bromo dan Batok.


Berkunjung ke Bromo paling nikmat memang membawa kendaraan sendiri. Dengan kendaraan pribadi bisa langsung mengakses hotel di Cemorolawang. Hanya saja untuk ke lautan pasir dan Pananjakan wajib menyawa kendaraan offroad yang banyak tersedia.

Berbeda  ketika kita melawati jalur ke dua, yakni melawati Tosari. Kendaraan pribadi bisa mengakses hingga Pananjakan dan lautan pasir. Hanya saja kurang menyenangkan jika memutuskan untuk bermalam di Kawasan Tengger dari jalur ini. Jarak hotel  terdekat dengan lautan pasir masih sekita 10 KM. Jika menginginkan bermalam di Bromo lebih baik  lewat Ngadisari.

Pemandangan paling eksotik menuju Gunung Bromo adalah melewati jalur ke tiga. Melalui Malang-Tumpang-Ngadas.  Selepas Jemplang (pertigaan yang memisahkan jalur ke Ranupani -Semeru dengan Gunung Bromo) kita akan disuguhi pemandangan yang begitu indah yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Untuk melewati jalur ini lebih baik mengendarai kendaraan offroad atau dikawal kendaraan offroad.


Pengorbanan Kesuma

kasodoKapan waktu yang paling baik berkunjung ke Bormo? Jika kita merencanakan berlibur tidak hanya untuk menikmati keindahan alam semata, lebih baik berkunjung ke Bromo saat Upacara Kasada digelar. Kita bisa menyelami keanegaraman budaya negeri ini.


Dukun (pemuka agama dan adat Suku Tengger) Desa Ngadisari, Sutomo menceritakan asal mula upacara Kasada terjadi pada akhir zaman dinasti Brawijaya yang memegang kekuasaan di Majapahit.Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng.


Menjelang dewasa sang putri menjalin asmara dan berjodoh dengan pemuda kasta Brahma, Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran yang bersamaan makin menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur Pulau Jawa.kasada1


Sebagian lagi menuju ke wilayah pegunungan yang kemudian dikenal dengan nama Tengger. Termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger. Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger. Atau Penguasa Tengger Yang Budiman. Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi.


Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai. Namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah
beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Pasangan ini kemudian memutuskan naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi, memohon kepada Sang Hyang Widi agar karuniai keturunan. Tiba-tiba terdengar suara gaib yang mengatakan permintaan mereka akan terkabul dengan syarat. Apabila telah dikaruniani keturunan,
anak bungsu harus dikorbankan ke kawah gunung Bromo. Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya. Beberapa waktu kemudian mereka dikaruniani 25 anak. Mereka tidak lupa akan janjinya. Namun sebagai orang tua, mereka tidak tega bila harus kehilangan salah satu anaknya untuk dikorbankan.



kasada2Para dewa menganggap mereka telah ingkar janji. Dan, dewa pun menjadi murka dengan mengancam akan menimpakan malapetaka.
Kemudian terjadilah prahara. Kawah gunung Bromo menyemburkan api, desa menjadi gelap gulita. Saat prahara terjadi, Kesuma, sang anak bungsu lenyap dari pandangan karena terjilat api dan masuk ke kawah Bromo. Bersamaan dengan lenyapnya Kesuma terdengar suara gaib "Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 haturkan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.”


Setelah itu warga Tengger yang bermukim di sekitar Kaldera Tengger secara turun temurun menggelar ritual adat Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

 
'Finding Nemo' di Pulau Kabung

Cuaca sangat cerah ketika perahu kami melintasi laut Cina Selatan dan merapat di pulau kecil itu. Sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari Kota...
Goes to Sumberbendo Festival 2008

Sebuah ajang eksplorasi budaya tradisional bertajuk Sumberbendo Festival 2008, segera digelar masyarakat kampung Sumberbendo, Desa Kucur, Kecamatan...
Indonesia Punya Green Canyon

Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Green Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata ...
Pesona Magis Wisata Gunung Kidul

Kali ini ..Anda saya ajak plesir ke daerah Gunung Kidul. Daerah yang lebih banyak dikenal orang lantaran pemberitaan tentang kekeringan yang...
Rinjani Yang Bikin Iri Hati

Anda menyukai tantangan dalam berwisata? Tidak ada salahnya untuk mencoba plesir  ke Gunung Rinjani. Untuk menemui  esotisme pemandangan Rinjani ...
Pantai Parangtritis Yogyakarta

Pantai Parangtritis adalah salah satu pantai yang mesti dikunjungi, bukan cuma karena merupakan pantai yang paling populer di Yogyakarta, tetapi ...
Festival Indonesia 2009 Melbourne Australia

  Festival Indonesia, setiap tahunnya selalu menjadi magnet  terutama bagi masyarakat Indonesia di Melbourne, Indonesianis, friends of Indonesia,...
Bromo, Ku Kan Kembali Lagi

Tak terasa Toyota Kijang yang saya kendarai telah memasuki Sukapura setelah sekitar satu setengah jam menempuh perjalanan dari kota Malang. Jarum jam...
Nikmati 'Surga Laut' di Bangko-bangko

Selain Bali dan pulau – pulau lainnya di Indonesia, Nusa Tenggara Barat merupakan alternatif wisatawan manca negara berselancar. Ombak Pantai...
Imlek, Tradisi Mengusir Nian

Tahun Baru Imlek 2559 tahun ini tiba di tanggal 7 Februari 2008. Hari raya ini merupakan hari pertama dalam bulan pertama dari sistem kalender warga...