|
Cuaca sangat cerah ketika perahu kami melintasi laut Cina Selatan dan merapat di pulau kecil itu. Sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari Kota Singkawang, Pulau Kabung namanya. Pulau ini, persisnya berada di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk mencapai pulau yang terkesan masih perawan dan jauh dari rutinitas kota, polusi, serta modernitas. Kami sebut petualangan kami sebagai ekspedisi pulau Kabung. Sebuah ekspedisi kecil yang akan mengobati kerinduan kami pada keaslian alam, pada keunikan kekayaan hayati utamanya kerinduan kami pada ikan-ikan kecil yang oleh warga pesisir pulau Kabung disebut sebagai Ikan Nemo (tokoh film 'Finding Nemo').
Kehidupan nemo atau ikan badut atau istilah kerennya clownfish yang banyak dijumpai di sela-sela terumbu karang, adalah andalan eko-tourisme Pulau berpenduduk sekitar 500 jiwa ini.Kehidupan di kampung nelayan, baik di bagan maupun di laut lepas, pemandangan sunrise maupun sunset, adalah pesona tersendiri yang tidak ingin sedikitpun kami lewatkan. Dan bila beruntung, kami juga dapat menyaksikan lumba-lumba yang bermain di perairan ini.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai pulau Kabung, bisa naik perahu klotok atau naik perahu motor yang rata-rata bertarif Rp 3.000-5000 per orang. Bila ingin lebih santai, tak mau dipusingkan dengan segala tetek bengek transportasi, bisa juga menggunakan jasa Canopy Kalimantan, satu-satunya operator wisata yang menyediakan jasa ini.
Kesunyian, Nyiur, dan Kopi
Tenang dan sunyi. Kesan pertama saat menjejakkan kaki di Pulau Kabung. Di sana sini tampak ikan-ikan teri yang dijemur di tikar bambu. Pulau bagaikan tidak berpenghuni. Namun bila perut mulai keroncongan, tidak perlu khawatir ada beberapa tempat yang menyediakan aneka menu ikan khas pulau ini, seperti menu ikan teri, ikan pindang tumbuk, dan sotong kuah.
Menu ayam maupun sayur memang tidak populer di kawasan ini. Selain ayam, sayur-sayuran juga merupakan komoditi yang sulit dijumpai di pulau Kabung. Warga setempat banyak membeli sayuran di Bengkayang atau Singkawang. Nuansa hijau di pulau ini lebih banyak didominasi oleh pohon kelapa dan cengkeh.
Momen yang paling mengasyikkan adalah ketika menikmati sunset .. bersampan menuju bagan yang dibuat secara sederhana, berpilar kayu sejenis palma yang dikenal dengan nama nibun dan paduan gelagar kayu sangae dan propok. Sedangkan pondoknya beratap nipah. Di tiang bagan yang terbenam air laut, hidup berbagai biota yang mendukung perkembangbiakan ikan.
Tinggi bagan dari dasar laut mencapai 18 meter, sementara tinggi anjungan bagan sekitar 4-6 meter. Anjungan bagan berukuran 9 x 7 meter, pada bagian bawah terdapat jala yang dapat diangkat.
Dari bagan itulah kita bisa menikmati sunset hingga malam menjelang dan nelayan di bagan menurunkan lampu petromaksnya untuk mengelabuhi ikan-ikan yang tertarik cahaya agar mendekat dan bisa ditangkap.
Menjelang tengah malam, sekelompok lelaki merapatkan perahu, menurunkan puluhan keranjang ikan teri, lalu para anggota keluarga ikut membantu menurunkan keranjang ikan. Para tetangga berdatangan, menyiapkan kayu bakar, dan membawa jurigen minyak tanah. Menurut keterangan penduduk setempat ikan harus direbus dalam tong air agar tidak busuk, kemudian besok paginya baru dijemur.
Kehidupan para nelayan di kampung ini, menurut pengakuan mereka tidak secantik dan seindah pulau .. baru setelah ditetapkan sebagai kawasan wisata masyarakat setempat terbantu dan terperhatikan pemerintah setempat.Apalagi setelah masyarakat dilibatkan dalam hal pengadaan fasilitas bagi pengunjung, terutama kuliner, tempat tinggal, dan yang lainnya.
Menurut informasi menjadikan Pulau Kabung—terutama Kampung Tengah menjadi desa wisata bukan perkara mudah. Kawan-kawan muda dari Canopy Kalimantan, membutuhkan waktu dua tahun, agar bisa diterima masyarakat.
Mereka menjaga keaslian kampung nelayan, tidak merubah yang sudah ada kecuali perbaikan sarana mandi dan cuci. Untuk air bersih, air gunung tersedia. Sedangkan untuk penerangan di malam hari, karena listrik belum ada, warga menggunakan petromaks dan lilin.
Menjelang siang, tim ekspedisi kecil kami memakai peralatan snorkeling yang sudah kami bawa sebelumnya. Berenang perlahan di permukaan air laut, lalu tampaklah ikan bergaris-garis orange dan putih yang menawan. Itulah nemo si ikan badut! **
**Foto-foto: Ade Joko Untoro, Pontianak, Kalimantan Barat
|