Indonesia News Style | Selasa Kliwon, 23 September 2014
Home Wisata Plesir Jangan Lupa ke Tana Toraja
Foto
Ditulis oleh   
Posted : JUMAT, 27 November 2009 14:37


Jangan Lupa ke Tana Toraja

toraja-kuburan_goa2

Ketika ada kesempatan berkunjung ke Makassar  kuranglah lengkap jika tidak meneruskan perjalanan mengunjungi Tana Toraja. Di tanah ini kita akan menemukan banyak kebiasaan, adat istiadat yang sangat menarik. Yang terkenal adalah tata cara dan lokasi pemakaman warga yang meninggal. Mereka tidak dikubur melainkan ada yang dimasukkan dalam pohon atau   dalam gua-gua batu.

 

 


Sekarang, untuk menuju Tanah Toraja juga lebih mudah. Dari Makassar perlu menempuh perjalanan darat sejauh sekitar 350 km. Angkutan umum  juga sudah tersedia.  Jika ingin lebih cepat, dari bandara Hasanuddin bisa dilanjutkan dengan naik  Casa  ke Bandara Pong Tiku Rantepo.

Dari Makassar perjalanan darat dimulai dengan menuju Rantepo, yang memakan waktu perjalanan sekitar 8 jam.  Dari Rantepo perjalanan dilanjutkan menuju Tana Toraja.

Setelah memasuki Tana Toraja,  Anda akan disambut  gunung-gunung batu yang menakjubkan.  Tapi, selepas Pasar Desa Mebali pemandangan akan berubah. Berganti hamparan padang  rumput hijau dangan domba dan peternaknya . Sebuah pemandangan yang  menyejukkan.  


Mitos dan Asal Usul

toraja-kuburan_goaKonon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana. Menurut mitos yang hingga kini tetap diyakini di kalangan masyarakat Toraja, nenek moyang mereka yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendreng dan Bugis Luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan".

Memang Kabupaten Tana Toraja letaknya kurang lebih 300-600 meter di atas permukaan laut. Orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya "orang yang berdiam di sebelah barat".

Versi lain, kata Toraja berasal dari Tau=(orang), Maraya=orang besar, bangsawan. Kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal dengan Tana Toraja.

Secara administratif, Kabupaten Tana Toraja mempunyai luas wilayah 3.205,77 km2, terdiri dari 15 kecamatan, 116 lembang, dan 27 kelurahan yang masing-masing dipimpin oleh kepala camat, kepala lembang, dan kepala lurah. Kepala Lembang tersebut di era otonomi ini langsung pilih oleh rakyat secara demokrasi.


Upacara Pemakaman
toraja-rambu_soloTana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan  tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut Rambu Solo. Di Tana Toraja mayat tidak di kubur melainkan diletakan di Tongkanan untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir di dalam goa atau dinding gunung.

Tengkorak-tengkorak  di goa dan dinding batu  menunjukkan bila  mayat  tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau di bawahnya, atau di dalam lubang. Biasanya. musim festival pemakaman dimulai ketika padi terakhir telah dipanen. Biasanya akhir Juni atau Juli, dan paling lambat bulan September.

Selain upacara adat Rambu Tuka dan Rambu Solo  Tana Toraja memiliki satu pohon yang amat ganjil di dunia, yakni pohon tarra, pohon yang buahnya mirip  sukun.  Pohon yang berlokasi di  Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao ini bukan pohon biasanya. Melainkan kuburan bagi bayi yang meninggal  dalam rentang usia  0 - 7 tahun.

Kini, prosesi penguburan bayi pada pohon ini tinggal kenangan. Namun pohon dan janazah bayi yang terkubur di pohon ini (menyatu dengan pohon) masih tegak berdiri. Pohon berdiameter sekitar 3,5 meter ini di mata masyarakat Toraja  merupakan salah satu tempat suci.

pesta_rambu_solo-1Berdasarkan cerita penduduk sekitar,  sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, batang  pohon  dilubangi. Pembuatan lubang juga tidak sembarangan. Disesuaikan dengan  lokasi tempat tinggal keluarga bayi.  Jika keluarga bayi berada di sisi timur pohon, lubang makam menghadap ke timur dan seterusnya. Selain arah, penentuan  lubang  masih terkait dengan strata sosial keluarga bayi. Makin tinggi derajat sosial keluarganya   makin tinggi pula lubang yang dibuat.

Setelah melalui serangkaian upacara adat, mayat bayi  dimasukkan ke dalam lubang  yang kemudian ditutup dengan serat  pohon kelapa berwarna hitam. Jenazah bayi-bayi  itu  dibiarkan menyatu dengan pohon.


Yang Khas

Tongkonan-1Selain adat istiadat seputar kematian, Tana Toraja masih memiliki sesuatu yang khas. Diantaranya  seni ukir dan tongkonan (rumah adat).  Seni ukir dan bangunan  ibarat dua  sisi mata uang.

Etnis Toraja selalu menghiasi bangunannya dengan ukiran.  Ukiran khas Toraja ini banyak ditemui pada eksterior maupun interior  (tongkonan), dan alang sutra (lumbung padi).

Ukiran yang terpahat pada rumah dan lumbung merupakan simbol makna hidup orang Toraja. Ukiran-ukiran itu ada yang bermakna hubungan manusia Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan).

Jumlah ukiran diperkirakan 67 jenis dengan aneka corak dan makna. Warna ukiran terdiri dari merah, kuning, putih, hingga hitam. Semua berasal dari tanah liat, yang disebut litak, kecuali warna hitam dari jelaga (hitam arak pada periuk) atau bagian dalam batang pisang muda.

Masih ada jenis seni yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam hidup dan budaya orang Toraja, yakni seni pahat. Seni ini dapat dilihat pada tongkonan merambu (rumah adat) dan tongkonan tang merambu (kuburan/patane).

Peralatan hasil seni pahat yang harus ada pada rumah adat (tongkonan) adalah kabongo', yaitu kepala kerbau yang dipahat dari kayu cendana atau kayu nangka, dilengkapi tanduk kerbau asli. Kabongo' ini berarti bahwa tongkonan ini milik pemimpin masyarakat, tempat melaksanakan kekuasaan adat.

Hal menarik di Tana Toraja
1.  Mengunjungi Tongkonan

tongkonan

Rumah adat  yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao. Tongkonan yang merupakan icon dari Tana Toraja awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. Rumah ini tidak bisa dimiliki oleh perseorangan melainkan turun temurun oleh keluarga atau marga suku Tana Toraja.


Dengan sifatnya yang demikian, tongkonan mempunyai beberapa fungsi. Antara lain sebagai pusat budaya, pusat pembinaan keluarga serta pembinaan peraturan keluarga dan kegotong royongan, pusat dinamisator, motivator, dan stabilator sosial.


Tongkonan mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Dikenal beberapa jenis, antara lain tongkonan layuk atau tongkonan pesio'aluk, yaitu tempat menyusun aturan-aturan sosial keagamaan.
Ada juga tongkonan pekaindoran, pekamberan, atau kaparengngesan, yaitu tongkonan yang berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat, berdasarkan aturan dari tongkonan pesio'aluk. Sementara itu, batu a'riri berfungsi sebagai tongkonan penunjang. Tongkonan ini mengatur dan berperan dalam membina persatuan keluarga serta membina warisan tongkonan.


2. Menjelajahi pasar.

Anda jangan sampai ketinggalan untuk mengunjungi pasar tradisional. Disini anda akan menemukan biji kopi khas Toraja (seperti Robusta dan Arabica) dan beberapa barang khas lainnya seperti buah-buahan (Tamarella atau Terong Belanda dan ikan mas).


3. Mengunjungi batu Tomonga

Artinya dalah batu yang mengarah ke awan. Dari tempat ini kita bisa melihat banyaknya batuan vulkanik yang bermunculan dari hamparan sawah. Dan beberapa batu raksasa yang menjadi Goa. Benar-benar pemandangan yang indah dan menjadikan Tana Toraja terlihat subur dan hijau.


4. Mengunjungi Palawa

Palawa adalah tempat yang bagus untuk dikunjungi. Dimana ada sebuah Tongkonan atau kawasan penguburan tempat untuk melakukan upacara dan festival.


5.Ke Kete

Lakukan perjalanan dari Rantepao ke Kete. Desa tradisional dengan kerajinan tangan yang bagus. Di belakang desa di bagian bukit ada goa yang ukuranya sudah lebih tua dari ukuran orang hidup.


6. Pohon Tarra

toraja-pohon_tarraTana Toraja memiliki satu pohon yang amat ganjil di dunia, yakni pohon tarra, pohon yang buahnya mirip  sukun.  Pohon yang berlokasi di  Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao ini bukan pohon biasanya. Melainkan kuburan bagi bayi yang meninggal  dalam rentang usia  0 - 7 tahun.


7. Goa Makam

Menyaksikan makam kuno suku Toraja. Di areal kuburan ini mayat tidak dikubur  melainkan diletakkan dalam gua-gua yang sudah dipersiapkan sesuai leluhurnya.

toraja-kuburan_goa1

 

Comments 

 
+1 Foto Posted :2010-01-22 02:23
devi

tana toraja mang daerah yang paling indah
 
 
+1 Foto Posted :2010-04-18 18:39
Vikar

tana toraja termasuk kota yang paling indah di indonesia.........
:-)
 
 
+1 Foto Posted :2010-05-08 10:14
Rizha

i like toraja, this is so good
 
 
-2 Foto Posted :2010-05-09 10:28
Icha Tikala

Indahnya Toraja, membuatku kangen untuk segera pulang....